September 9, 2016   PROFIL - 5715 Views

AGUNG SURYAMAL BELAJAR DARI SOSOK SANG AYAH

Editor: Nasmay L. Anas
AGUNG SURYAMAL BELAJAR DARI SOSOK SANG AYAH

PRESTASIINDONESIA.CO.- Jangan beli kucing dalam karung. Peribahasa ini cocok untuk mengingatkan masyarakat yang pada 2018 akan memenyelenggarakan pesta demokrasi Pilkada Jabar. Tujuannya tentu saja, agar mereka tidak salah memilih pemimpin yang akan mengendalikan Propinsi Jabar lima tahun ke depan.

Karena itu, Prestasi Indonesia berusaha menggali latar belakang dan sosok seorang calon Gubernur Jabar yang akan bertanding memperebutkan kursi “Jabar Satu” periode mendatang. Salah satunya adalah Ketua Kadin Jabar Agung Suryamal Sutisno. Tokoh pengusaha muda, yang telah menyatakan siap maju sebagai Bakal Calon Gubernur (Bacagub) Jabar dalam pilkada yang akan digelar kurang dari dua tahun lagi.

Sosok Agung Suryamal Sutisno menarik dibicarakan.  Sebab meskipun sudah dua periode menjabat Ketua Kadin Jabar, dia adalah muka baru dalam percaturan politik di propinsi ini. Paling tidak, masyarakat Jabar ingin tahu tentunya wajah baru di luar muka-muka lama yang selama ini itu-itu saja.

Pengusaha sukses kelahiran Bandung dari ibu asal Ciamis dan ayah dari Garut ini mengaku belajar banyak dari ayahnya sendiri, H. Sutisno. Mantan pedagang asongan yang berhasil membangun kerajaan bisnisnya sampai ke tingkat yang membanggakan.  Sutisno, seperti diceritakan Agung, awalnya mengungsi dari Garut ke Bandung pada dekade 1950-an. Di samping karena ingin mencari penghidupan yang lebih baik juga lantaran suasana perpolitikan di Garut, yang memanas akibat pemberontakan DI TII kala itu.

“Jadi, saya bukan anak konglomerat. Saya belajar banyak dari sosok ayah yang mengungsi dari Garut. Tinggal di rumah bedeng ukuran 4×4 meter. Itu juga kontrakan milik saudara. Berusaha melanjutkan pendidikan sambil berjualan asongan di depan alun-alun Bandung,” papar ayah dari sepasang putera dan puteri itu.

“Kadang ayah saya juga banyak menghabiskan waktunya di lapangan tenis. Tempat toke-toke kaya bermain tenis dan dia bertugas sebagai pemungut bolanya,” imbuhnya.

Ketua Kadin Jabar yang terkesan sangat “low profile” ini mengaku belajar banyak dari sejumlah prinsip hidup yang diajarkan sang ayah.

“Prinsip bagi ayah saya, dia harus bisa bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya.

Menurut dia, H. Sutisno memang dikenal banyak orang sebagai salah seorang pengusaha putera daerah yang berhasil membangun Pasar Induk Caringin. Tapi sebenarnya tidak banyak yang tahu alasan di balik keinginannya membangun pasar induk yang konon terbesar di tanah air itu.

Semua itu adalah karena dirinya ingin bermanfaat bagi orang lain. Sebab itu, ketika membangun pasar induk Caringin, dia banyak membantu pedagang-pedagang kecil pribumi yang kesulitan menjual hasil dagangannya. Dia memikirkan bagaimana caranya supaya kehidupan mereka berubah. Jadi dia memberikan bantuan berupa kemudahan memiliki kios.

“Dengan modal KTP para pedagang kecil bisa memiliki kios. Saya sendiri pernah protes, ngapain sih mikirin orang lain. Tapi dia bilang, ini perjuangan,” ungkap Agung tentang cerita di balik pembangunan Pasar Induk Caringin pada dekade 1980-an itu.

Prinsip lain yang diajarkan sang ayah, cerita Agung, adalah agar kita menghargai orang yang lebih tua. Kalau ketemu orang yang lebih tua, apa pun jabatan atau pekerjaannya, kita harus menghargai; harus menghormati.

Dan prinsip yang lain, kalau bersaing janganlah bersaing dengan orang yang satu level atau lebih rendah. Tapi bersainglah dengan orang yang levelnya lebih tinggi. “Jadi kalau kalah pun itu terhormat,” pungkasnya.

Menurut Ketua Kadin Jabar dua periode ini, H. Sutisno dan isteri yang sampai sekarang masih segar bugar,  juga mengajari dirinya bagaimana cara memikul tanggung jawab. Waktu mulai berbisnis, katanya, dia diberi modal yang tidak banyak oleh sang ayah. Itu juga dalam bentuk pinjaman yang dikenai bunga.

Mengapa seperti itu? “Dulu saya sebenarnya ingin protes. Tapi ternyata ayah saya sedang mengajari saya memikul tanggung jawab. Dengan adanya bunga, ayah sedang berusaha memberi motivasi dan memompa semangat saya. Agar saya berusaha lebih keras sehingga mampu memegang tanggung jawab,” paparnya.

Bahkan ketika menyatakan ingin menikah, cerita Agung, ayahnya tidak lantas menyetujui. Tapi mengajukan pertanya: “Kamu sudah punya apa? Sebab kalau sudah menikah, kamu harus mampu menghidupi anak orang. Harus mampu menyenangkan, jangan menyusahkan.”

Karena itu, lanjutnya, dia harus menunda pernikahan. Ketika sudah memiliki rumah dan dana yang cukup dia usia 30 tahun barulah dia memutuskan untuk menikah.Sutisno, ayah dari tiga putera dan tiga puteri, adalah mantan pedagang asongan yang ulet. Membangun kerajaan bisnisnya dari level paling bawah sampai jadi pengusaha besar, dengan tidak melupakan akarnya. Selain dikenal sebagai tokoh yang berhasil membangun Pasar Induk Caringin, dia juga sukses membangun perumahan yang cukup besar di Cijerah, Bandung Barat. Yaitu perumahan Permindo. Dia juga pernah menjadi pemegang saham terbesar coca-cola yang berpusat di Rancaekek, di samping juga menjalankan bisnis perkebunan, pompa bensin, ekspor kina ke Eropa dan banyak lagi lainnya.

Reporter: Deni Hidayat

Editor: Nasmay L. Anas

 

Comments

comments

PRESTASIINDONESIA.CO.- Jangan beli kucing dalam karung. Peribahasa ini cocok untuk mengingatkan masyarakat yang pada 2018 akan memenyelenggarakan pesta demokrasi Pilkada Jabar. Tujuannya tentu saja, agar mereka tidak salah memilih pemimpin yang akan mengendalikan Propinsi Jabar lima tahun ke depan.

Karena itu, Prestasi Indonesia berusaha menggali latar belakang dan sosok seorang calon Gubernur Jabar yang akan bertanding memperebutkan kursi “Jabar Satu” periode mendatang. Salah satunya adalah Ketua Kadin Jabar Agung Suryamal Sutisno. Tokoh pengusaha muda, yang telah menyatakan siap maju sebagai Bakal Calon Gubernur (Bacagub) Jabar dalam pilkada yang akan digelar kurang dari dua tahun lagi.

Sosok Agung Suryamal Sutisno menarik dibicarakan.  Sebab meskipun sudah dua periode menjabat Ketua Kadin Jabar, dia adalah muka baru dalam percaturan politik di propinsi ini. Paling tidak, masyarakat Jabar ingin tahu tentunya wajah baru di luar muka-muka lama yang selama ini itu-itu saja.

Pengusaha sukses kelahiran Bandung dari ibu asal Ciamis dan ayah dari Garut ini mengaku belajar banyak dari ayahnya sendiri, H. Sutisno. Mantan pedagang asongan yang berhasil membangun kerajaan bisnisnya sampai ke tingkat yang membanggakan.  Sutisno, seperti diceritakan Agung, awalnya mengungsi dari Garut ke Bandung pada dekade 1950-an. Di samping karena ingin mencari penghidupan yang lebih baik juga lantaran suasana perpolitikan di Garut, yang memanas akibat pemberontakan DI TII kala itu.

“Jadi, saya bukan anak konglomerat. Saya belajar banyak dari sosok ayah yang mengungsi dari Garut. Tinggal di rumah bedeng ukuran 4×4 meter. Itu juga kontrakan milik saudara. Berusaha melanjutkan pendidikan sambil berjualan asongan di depan alun-alun Bandung,” papar ayah dari sepasang putera dan puteri itu.

“Kadang ayah saya juga banyak menghabiskan waktunya di lapangan tenis. Tempat toke-toke kaya bermain tenis dan dia bertugas sebagai pemungut bolanya,” imbuhnya.

Ketua Kadin Jabar yang terkesan sangat “low profile” ini mengaku belajar banyak dari sejumlah prinsip hidup yang diajarkan sang ayah.

“Prinsip bagi ayah saya, dia harus bisa bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya.

Menurut dia, H. Sutisno memang dikenal banyak orang sebagai salah seorang pengusaha putera daerah yang berhasil membangun Pasar Induk Caringin. Tapi sebenarnya tidak banyak yang tahu alasan di balik keinginannya membangun pasar induk yang konon terbesar di tanah air itu.

Semua itu adalah karena dirinya ingin bermanfaat bagi orang lain. Sebab itu, ketika membangun pasar induk Caringin, dia banyak membantu pedagang-pedagang kecil pribumi yang kesulitan menjual hasil dagangannya. Dia memikirkan bagaimana caranya supaya kehidupan mereka berubah. Jadi dia memberikan bantuan berupa kemudahan memiliki kios.

“Dengan modal KTP para pedagang kecil bisa memiliki kios. Saya sendiri pernah protes, ngapain sih mikirin orang lain. Tapi dia bilang, ini perjuangan,” ungkap Agung tentang cerita di balik pembangunan Pasar Induk Caringin pada dekade 1980-an itu.

Prinsip lain yang diajarkan sang ayah, cerita Agung, adalah agar kita menghargai orang yang lebih tua. Kalau ketemu orang yang lebih tua, apa pun jabatan atau pekerjaannya, kita harus menghargai; harus menghormati.

Dan prinsip yang lain, kalau bersaing janganlah bersaing dengan orang yang satu level atau lebih rendah. Tapi bersainglah dengan orang yang levelnya lebih tinggi. “Jadi kalau kalah pun itu terhormat,” pungkasnya.

Menurut Ketua Kadin Jabar dua periode ini, H. Sutisno dan isteri yang sampai sekarang masih segar bugar,  juga mengajari dirinya bagaimana cara memikul tanggung jawab. Waktu mulai berbisnis, katanya, dia diberi modal yang tidak banyak oleh sang ayah. Itu juga dalam bentuk pinjaman yang dikenai bunga.

Mengapa seperti itu? “Dulu saya sebenarnya ingin protes. Tapi ternyata ayah saya sedang mengajari saya memikul tanggung jawab. Dengan adanya bunga, ayah sedang berusaha memberi motivasi dan memompa semangat saya. Agar saya berusaha lebih keras sehingga mampu memegang tanggung jawab,” paparnya.

Bahkan ketika menyatakan ingin menikah, cerita Agung, ayahnya tidak lantas menyetujui. Tapi mengajukan pertanya: “Kamu sudah punya apa? Sebab kalau sudah menikah, kamu harus mampu menghidupi anak orang. Harus mampu menyenangkan, jangan menyusahkan.”

Karena itu, lanjutnya, dia harus menunda pernikahan. Ketika sudah memiliki rumah dan dana yang cukup dia usia 30 tahun barulah dia memutuskan untuk menikah.Sutisno, ayah dari tiga putera dan tiga puteri, adalah mantan pedagang asongan yang ulet. Membangun kerajaan bisnisnya dari level paling bawah sampai jadi pengusaha besar, dengan tidak melupakan akarnya. Selain dikenal sebagai tokoh yang berhasil membangun Pasar Induk Caringin, dia juga sukses membangun perumahan yang cukup besar di Cijerah, Bandung Barat. Yaitu perumahan Permindo. Dia juga pernah menjadi pemegang saham terbesar coca-cola yang berpusat di Rancaekek, di samping juga menjalankan bisnis perkebunan, pompa bensin, ekspor kina ke Eropa dan banyak lagi lainnya.

Reporter: Deni Hidayat

Editor: Nasmay L. Anas

 

Comments

comments

September 9, 2016   PROFIL - 5716 Views

AGUNG SURYAMAL BELAJAR DARI SOSOK SANG AYAH

Editor: Nasmay L. Anas
AGUNG SURYAMAL BELAJAR DARI SOSOK SANG AYAH

PRESTASIINDONESIA.CO.- Jangan beli kucing dalam karung. Peribahasa ini cocok untuk mengingatkan masyarakat yang pada 2018 akan memenyelenggarakan pesta demokrasi Pilkada Jabar. Tujuannya tentu saja, agar mereka tidak salah memilih pemimpin yang akan mengendalikan Propinsi Jabar lima tahun ke depan.

Karena itu, Prestasi Indonesia berusaha menggali latar belakang dan sosok seorang calon Gubernur Jabar yang akan bertanding memperebutkan kursi “Jabar Satu” periode mendatang. Salah satunya adalah Ketua Kadin Jabar Agung Suryamal Sutisno. Tokoh pengusaha muda, yang telah menyatakan siap maju sebagai Bakal Calon Gubernur (Bacagub) Jabar dalam pilkada yang akan digelar kurang dari dua tahun lagi.

Sosok Agung Suryamal Sutisno menarik dibicarakan.  Sebab meskipun sudah dua periode menjabat Ketua Kadin Jabar, dia adalah muka baru dalam percaturan politik di propinsi ini. Paling tidak, masyarakat Jabar ingin tahu tentunya wajah baru di luar muka-muka lama yang selama ini itu-itu saja.

Pengusaha sukses kelahiran Bandung dari ibu asal Ciamis dan ayah dari Garut ini mengaku belajar banyak dari ayahnya sendiri, H. Sutisno. Mantan pedagang asongan yang berhasil membangun kerajaan bisnisnya sampai ke tingkat yang membanggakan.  Sutisno, seperti diceritakan Agung, awalnya mengungsi dari Garut ke Bandung pada dekade 1950-an. Di samping karena ingin mencari penghidupan yang lebih baik juga lantaran suasana perpolitikan di Garut, yang memanas akibat pemberontakan DI TII kala itu.

“Jadi, saya bukan anak konglomerat. Saya belajar banyak dari sosok ayah yang mengungsi dari Garut. Tinggal di rumah bedeng ukuran 4×4 meter. Itu juga kontrakan milik saudara. Berusaha melanjutkan pendidikan sambil berjualan asongan di depan alun-alun Bandung,” papar ayah dari sepasang putera dan puteri itu.

“Kadang ayah saya juga banyak menghabiskan waktunya di lapangan tenis. Tempat toke-toke kaya bermain tenis dan dia bertugas sebagai pemungut bolanya,” imbuhnya.

Ketua Kadin Jabar yang terkesan sangat “low profile” ini mengaku belajar banyak dari sejumlah prinsip hidup yang diajarkan sang ayah.

“Prinsip bagi ayah saya, dia harus bisa bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya.

Menurut dia, H. Sutisno memang dikenal banyak orang sebagai salah seorang pengusaha putera daerah yang berhasil membangun Pasar Induk Caringin. Tapi sebenarnya tidak banyak yang tahu alasan di balik keinginannya membangun pasar induk yang konon terbesar di tanah air itu.

Semua itu adalah karena dirinya ingin bermanfaat bagi orang lain. Sebab itu, ketika membangun pasar induk Caringin, dia banyak membantu pedagang-pedagang kecil pribumi yang kesulitan menjual hasil dagangannya. Dia memikirkan bagaimana caranya supaya kehidupan mereka berubah. Jadi dia memberikan bantuan berupa kemudahan memiliki kios.

“Dengan modal KTP para pedagang kecil bisa memiliki kios. Saya sendiri pernah protes, ngapain sih mikirin orang lain. Tapi dia bilang, ini perjuangan,” ungkap Agung tentang cerita di balik pembangunan Pasar Induk Caringin pada dekade 1980-an itu.

Prinsip lain yang diajarkan sang ayah, cerita Agung, adalah agar kita menghargai orang yang lebih tua. Kalau ketemu orang yang lebih tua, apa pun jabatan atau pekerjaannya, kita harus menghargai; harus menghormati.

Dan prinsip yang lain, kalau bersaing janganlah bersaing dengan orang yang satu level atau lebih rendah. Tapi bersainglah dengan orang yang levelnya lebih tinggi. “Jadi kalau kalah pun itu terhormat,” pungkasnya.

Menurut Ketua Kadin Jabar dua periode ini, H. Sutisno dan isteri yang sampai sekarang masih segar bugar,  juga mengajari dirinya bagaimana cara memikul tanggung jawab. Waktu mulai berbisnis, katanya, dia diberi modal yang tidak banyak oleh sang ayah. Itu juga dalam bentuk pinjaman yang dikenai bunga.

Mengapa seperti itu? “Dulu saya sebenarnya ingin protes. Tapi ternyata ayah saya sedang mengajari saya memikul tanggung jawab. Dengan adanya bunga, ayah sedang berusaha memberi motivasi dan memompa semangat saya. Agar saya berusaha lebih keras sehingga mampu memegang tanggung jawab,” paparnya.

Bahkan ketika menyatakan ingin menikah, cerita Agung, ayahnya tidak lantas menyetujui. Tapi mengajukan pertanya: “Kamu sudah punya apa? Sebab kalau sudah menikah, kamu harus mampu menghidupi anak orang. Harus mampu menyenangkan, jangan menyusahkan.”

Karena itu, lanjutnya, dia harus menunda pernikahan. Ketika sudah memiliki rumah dan dana yang cukup dia usia 30 tahun barulah dia memutuskan untuk menikah.Sutisno, ayah dari tiga putera dan tiga puteri, adalah mantan pedagang asongan yang ulet. Membangun kerajaan bisnisnya dari level paling bawah sampai jadi pengusaha besar, dengan tidak melupakan akarnya. Selain dikenal sebagai tokoh yang berhasil membangun Pasar Induk Caringin, dia juga sukses membangun perumahan yang cukup besar di Cijerah, Bandung Barat. Yaitu perumahan Permindo. Dia juga pernah menjadi pemegang saham terbesar coca-cola yang berpusat di Rancaekek, di samping juga menjalankan bisnis perkebunan, pompa bensin, ekspor kina ke Eropa dan banyak lagi lainnya.

Reporter: Deni Hidayat

Editor: Nasmay L. Anas

 

Comments

comments

PRESTASIINDONESIA.CO.- Jangan beli kucing dalam karung. Peribahasa ini cocok untuk mengingatkan masyarakat yang pada 2018 akan memenyelenggarakan pesta demokrasi Pilkada Jabar. Tujuannya tentu saja, agar mereka tidak salah memilih pemimpin yang akan mengendalikan Propinsi Jabar lima tahun ke depan.

Karena itu, Prestasi Indonesia berusaha menggali latar belakang dan sosok seorang calon Gubernur Jabar yang akan bertanding memperebutkan kursi “Jabar Satu” periode mendatang. Salah satunya adalah Ketua Kadin Jabar Agung Suryamal Sutisno. Tokoh pengusaha muda, yang telah menyatakan siap maju sebagai Bakal Calon Gubernur (Bacagub) Jabar dalam pilkada yang akan digelar kurang dari dua tahun lagi.

Sosok Agung Suryamal Sutisno menarik dibicarakan.  Sebab meskipun sudah dua periode menjabat Ketua Kadin Jabar, dia adalah muka baru dalam percaturan politik di propinsi ini. Paling tidak, masyarakat Jabar ingin tahu tentunya wajah baru di luar muka-muka lama yang selama ini itu-itu saja.

Pengusaha sukses kelahiran Bandung dari ibu asal Ciamis dan ayah dari Garut ini mengaku belajar banyak dari ayahnya sendiri, H. Sutisno. Mantan pedagang asongan yang berhasil membangun kerajaan bisnisnya sampai ke tingkat yang membanggakan.  Sutisno, seperti diceritakan Agung, awalnya mengungsi dari Garut ke Bandung pada dekade 1950-an. Di samping karena ingin mencari penghidupan yang lebih baik juga lantaran suasana perpolitikan di Garut, yang memanas akibat pemberontakan DI TII kala itu.

“Jadi, saya bukan anak konglomerat. Saya belajar banyak dari sosok ayah yang mengungsi dari Garut. Tinggal di rumah bedeng ukuran 4×4 meter. Itu juga kontrakan milik saudara. Berusaha melanjutkan pendidikan sambil berjualan asongan di depan alun-alun Bandung,” papar ayah dari sepasang putera dan puteri itu.

“Kadang ayah saya juga banyak menghabiskan waktunya di lapangan tenis. Tempat toke-toke kaya bermain tenis dan dia bertugas sebagai pemungut bolanya,” imbuhnya.

Ketua Kadin Jabar yang terkesan sangat “low profile” ini mengaku belajar banyak dari sejumlah prinsip hidup yang diajarkan sang ayah.

“Prinsip bagi ayah saya, dia harus bisa bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya.

Menurut dia, H. Sutisno memang dikenal banyak orang sebagai salah seorang pengusaha putera daerah yang berhasil membangun Pasar Induk Caringin. Tapi sebenarnya tidak banyak yang tahu alasan di balik keinginannya membangun pasar induk yang konon terbesar di tanah air itu.

Semua itu adalah karena dirinya ingin bermanfaat bagi orang lain. Sebab itu, ketika membangun pasar induk Caringin, dia banyak membantu pedagang-pedagang kecil pribumi yang kesulitan menjual hasil dagangannya. Dia memikirkan bagaimana caranya supaya kehidupan mereka berubah. Jadi dia memberikan bantuan berupa kemudahan memiliki kios.

“Dengan modal KTP para pedagang kecil bisa memiliki kios. Saya sendiri pernah protes, ngapain sih mikirin orang lain. Tapi dia bilang, ini perjuangan,” ungkap Agung tentang cerita di balik pembangunan Pasar Induk Caringin pada dekade 1980-an itu.

Prinsip lain yang diajarkan sang ayah, cerita Agung, adalah agar kita menghargai orang yang lebih tua. Kalau ketemu orang yang lebih tua, apa pun jabatan atau pekerjaannya, kita harus menghargai; harus menghormati.

Dan prinsip yang lain, kalau bersaing janganlah bersaing dengan orang yang satu level atau lebih rendah. Tapi bersainglah dengan orang yang levelnya lebih tinggi. “Jadi kalau kalah pun itu terhormat,” pungkasnya.

Menurut Ketua Kadin Jabar dua periode ini, H. Sutisno dan isteri yang sampai sekarang masih segar bugar,  juga mengajari dirinya bagaimana cara memikul tanggung jawab. Waktu mulai berbisnis, katanya, dia diberi modal yang tidak banyak oleh sang ayah. Itu juga dalam bentuk pinjaman yang dikenai bunga.

Mengapa seperti itu? “Dulu saya sebenarnya ingin protes. Tapi ternyata ayah saya sedang mengajari saya memikul tanggung jawab. Dengan adanya bunga, ayah sedang berusaha memberi motivasi dan memompa semangat saya. Agar saya berusaha lebih keras sehingga mampu memegang tanggung jawab,” paparnya.

Bahkan ketika menyatakan ingin menikah, cerita Agung, ayahnya tidak lantas menyetujui. Tapi mengajukan pertanya: “Kamu sudah punya apa? Sebab kalau sudah menikah, kamu harus mampu menghidupi anak orang. Harus mampu menyenangkan, jangan menyusahkan.”

Karena itu, lanjutnya, dia harus menunda pernikahan. Ketika sudah memiliki rumah dan dana yang cukup dia usia 30 tahun barulah dia memutuskan untuk menikah.Sutisno, ayah dari tiga putera dan tiga puteri, adalah mantan pedagang asongan yang ulet. Membangun kerajaan bisnisnya dari level paling bawah sampai jadi pengusaha besar, dengan tidak melupakan akarnya. Selain dikenal sebagai tokoh yang berhasil membangun Pasar Induk Caringin, dia juga sukses membangun perumahan yang cukup besar di Cijerah, Bandung Barat. Yaitu perumahan Permindo. Dia juga pernah menjadi pemegang saham terbesar coca-cola yang berpusat di Rancaekek, di samping juga menjalankan bisnis perkebunan, pompa bensin, ekspor kina ke Eropa dan banyak lagi lainnya.

Reporter: Deni Hidayat

Editor: Nasmay L. Anas

 

Comments

comments