December 2, 2016   INSTITUSI - 20968 Views

Diakui Dunia, Kemampuan Prajurit Denjaka TNI Al Setara 120 Tentara Biasa

Editor: Nasmay L. Anas
Diakui Dunia, Kemampuan Prajurit Denjaka TNI Al Setara 120 Tentara Biasa

PRESTASIINDONESIA.CO.- Satuan-satuan tempur elit Indonesia dikenal memiliki kemampuan yang diakui dunia. Bahkan sejumlah negara besar dunia seperti  Amerika Serikat dan Rusia pun sudah menyatakan pengakuannya terhadap kehebatan para prajurit pilihan TNI ini. Dan salah satu pasukan elit TNI yang dikenal memiliki kemampuan luar biasa adalah Detasemen Jala Mengkara TNI Angkatan Laut (Denjaka TNI AL).

Bagaimana tidak? Denjaka TNI AL sebagai salah satu satuan tempur elit TNI disebut-sebut sebagai pasukan yang sulit dicari tandingannya. Sebab sebagai satuan antiteror, terutama menjaga wilayah perairan Indonesia, kekuatan satu prajurit Denjaka digadang-gadang setara dengan 120 orang TNI biasa.

Baca juga: http://www.prestasiindonesia.co/kagumi-kekuatan-militer-indonesia-para-jenderal-as-bicara-blak-blakan/

Para anggota Denjaka TNI AL merupakan prajurit khusus. Satuan tempur ini berasal dari gabungan anggota pasukan elit TNI AL lainnya. Yakni Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Batalyon Intai Amfibi (Taifib).

Karena memang berasal dari TNI AL, maka Denjaka dianggap sebagai pasukan di bawah komando TNI AL. Meski demikian pasukan elit ini memiliki keunikan tersendiri. Sebab satuan ini tidak hanya mampu bergerak di laut, tapi juga di darat, laut, dan udara. Karena kemampuan mereka yang luar biasa ini, mereka sering dilibatkan untuk mengamankan kegiatan presiden.

Melepaskan ikatan kaki dan tangan di dalam air (foto:dok/net)

Melepaskan ikatan kaki dan tangan di dalam air (foto:dok/net)

Pasukan Denjaka merupakan pasukan yang anggotanya cukup banyak. Mereka terdiri dari orang – orang yang tidak sembarangan. Saban tahun ratusan orang mendaftar jadi anggota pasukan Denjaka, namun hanya 50 orang yang lolos. Satu demi satu tumbang setelah melakukan proses seleksi dan latihan sangat mengerikan.

Mulai dari proses seleksi sampai latihan-latihan yang super berat dan mengerikan harus dilalui setiap prajurit Denjaka TNI AL.  Di antaranya, mereka harus berenang  di laut dengan tangan dan kaki terikat. Mereka harus bisa lolos dari ikatan itu. Hal ini dilakukan untuk berjaga-jaga jika kondisi tersebut ditemui saat perang dan musuh menghukum mereka dengan cara demikian.

Selain itu, Anggota Denjaka dilepas di hutan berminggu-minggu dengan hanya berbekal garam. Bagaimana caranya mereka harus bertahan hidup dengan bekal tersebut! Saat di udara juga demikian. Mereka harus bisa terjun dari pesawat dengan ketinggian yang tidak bisa dideteksi musuh.

Latihan yang dianggap keras ini bukan untuk menyakiti tetapi memiliki tujuan khusus sebagai latihan mental. Itulah kenapa jika Denjaka TNI AL banjir pujian saat latihan bersama “Asean Defence Ministers Meeting-Plus Maritime Security dan Counter Terorrism Exercise 2016” (ADMM-Plus On MS and CT Exercise 2016) di Brunei Darusalam dan Singapura.

Dinas Penerangan Armada Timur (Dispenarmatim) dalam siaran persnya menjelaskan jika Sultan Brunei Darussalam, Sultan Hassanal Bolkiah dan perwakilan delegasi dari masing-masing negara peserta ADMM-Plus On MS and CT Exercise 2016 menyatakan salut atas kemampuan prajurit-prajurit pilihan dari Denjaka TNI AL ini.

Sejarah

Sejarah terbentuknya pasukan elit Denjaka TNI AL sebenarnya sudah cukup panjang. Yakni sejak 4 November 1982. Waktu itu,  KSAL membentuk organisasi tugas dengan nama Pasukan Khusus AL (Pasusla). Keberadaan Pasusla didesak oleh kebutuhan akan adanya pasukan khusus TNI AL guna menanggulangi segala bentuk ancaman aspek laut. Misalnya terorisme, sabotase, dan berbagai ancaman lainnya.

Pada tahap pertama, direkrut 70 personel dari Batalyon Intai Amfibi (Yontaifib) dan Komando Pasukan Katak (Kopaska). Komando dan pengendalian pembinaan di bawah Panglima Armada Barat dengan asistensi Komandan Korps Marinir. KSAL bertindak selaku pengendali operasional. Markas ditetapkan di Mako Armabar.

Melihat perkembangan dan kebutuhan satuan khusus ini, KSAL menyurati Panglima TNI yang isinya berkisar keinginan membentuk Detasemen Jala Mangkara. Panglima ABRI menyetujui dan sejak itu (13 November 1984), Denjaka menjadi satuan Antiteror Aspek Laut. Merunut keputusan KSAL, Denjaka adalah komando pelaksana Korps Marinir yang mempunyai tugas pokok melaksanakan pembinaan kemampuan dan kekuatan dalam rangka melaksanakan operasi antiteror, antisabotase, dan klandesten aspek laut atas perintah Panglima TNI.

Siap Tempur di Darat, Laut dan Udara (Foto: dok/net)

Siap Tempur di Darat, Laut dan Udara (Foto: dok/net)

Pola rekrutmen Denjaka dimulai sejak pendidikan para dan komando. Selangkah sebelum masuk ke Denjaka, prajurit terpilih mesti sudah berkualifikasi Intai Amfibi. Dalam menjalankan aksinya, satuan khusus ini dapat digerakkan menuju sasaran baik lewat permukaan/bawah laut maupun lewat udara. TNI AL masih memiliki satu pasukan khusus lagi, yaitu Komando Pasukan Katak (Kopaska). Kedua satuan pernah beberapa kali melakukan latihan gabungan dengan US Navy SEAL.

Denjaka terdiri dari satu markas detasemen, satu tim markas, satu tim teknik dan tiga tim tempur. Sebagai unsur pelaksana, prajurit Denjaka ditutut memiliki kesiapan operasional mobilitas kecepatan, kerahasiaan dan pendadakan yang tertinggi serta medan operasi yang berupa kapal-kapal, instalasi lepas pantai dan daerah pantai. Disamping itu juga memiliki keterampilan mendekati sasaran melalui laut, bawah laut dan vertikal dari udara.

Setiap prajurit Denjaka dibekali kursus penanggulangan antiteror aspek laut yang bermaterikan:    Intelijen, taktik dan teknik anti-teror, anti-sabotase, dasar-dasar spesialisasi, komando kelautan dan keparaan lanjutan. Kursus ini dilaksanakan setiap kurang lebih 5,5 bulan bertempat di Jakarta dan sekitarnya.

Kursus-kursus tersebut kemudian dilanjutkan dengan materi pemeliharaan kecakapan dan peningkatan kemampuan kemahiran kualifikasi Taifib dan Paska, pemeliharaan dan peningkatan kemampuan menembak, lari dan berenang, peningkatan kemampuan bela diri, penguasaan taktis dan teknik penetrasi rahasia, darat, laut dan udara, penguasaan taktik dan teknik untuk merebut dan menguasai instalasi di laut, kapal, pelabuhan/pangkalan dan personel yang disandera di objek vital di laut, penguasaan taktik dan teknik operasi klandestin aspek laut, pengetahuan tentang terorisme dan sabotase, penjinakan bahan peledak, dan peningkatan kemampuan survival, pelolosan diri, pengendapan, dan ketahanan interogasi.

Untuk mendukung operasi personel Denjaka dibekali antara lain submachine gun MP5, HK PSG1, Daewoo K7, senapan serbu G36, HK416, M4, Pindad ss-1, CZ-58, senapan mesin ringan Minimi M60, Daewoo K3, serta pistol Beretta, HK P30 dan SIG Sauer 9 mm.

Beberapa perwira yang pernah memimpin Denjaka antara lain adalah Letjen TNI (Mar) Nono Sampono (AAL 1976), Mayjen TNI (Mar) Yussuf Solichien dan Letjen TNI (Mar) M. Alfan Baharudin (AAL 1981). Komandan Denjaka yang sekarang menjabat adalah Kolonel Marinir Supriyono, S.E. (nas/dari beberapa sumber)

Comments

comments

PRESTASIINDONESIA.CO.- Satuan-satuan tempur elit Indonesia dikenal memiliki kemampuan yang diakui dunia. Bahkan sejumlah negara besar dunia seperti  Amerika Serikat dan Rusia pun sudah menyatakan pengakuannya terhadap kehebatan para prajurit pilihan TNI ini. Dan salah satu pasukan elit TNI yang dikenal memiliki kemampuan luar biasa adalah Detasemen Jala Mengkara TNI Angkatan Laut (Denjaka TNI AL).

Bagaimana tidak? Denjaka TNI AL sebagai salah satu satuan tempur elit TNI disebut-sebut sebagai pasukan yang sulit dicari tandingannya. Sebab sebagai satuan antiteror, terutama menjaga wilayah perairan Indonesia, kekuatan satu prajurit Denjaka digadang-gadang setara dengan 120 orang TNI biasa.

Baca juga: http://www.prestasiindonesia.co/kagumi-kekuatan-militer-indonesia-para-jenderal-as-bicara-blak-blakan/

Para anggota Denjaka TNI AL merupakan prajurit khusus. Satuan tempur ini berasal dari gabungan anggota pasukan elit TNI AL lainnya. Yakni Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Batalyon Intai Amfibi (Taifib).

Karena memang berasal dari TNI AL, maka Denjaka dianggap sebagai pasukan di bawah komando TNI AL. Meski demikian pasukan elit ini memiliki keunikan tersendiri. Sebab satuan ini tidak hanya mampu bergerak di laut, tapi juga di darat, laut, dan udara. Karena kemampuan mereka yang luar biasa ini, mereka sering dilibatkan untuk mengamankan kegiatan presiden.

Melepaskan ikatan kaki dan tangan di dalam air (foto:dok/net)

Melepaskan ikatan kaki dan tangan di dalam air (foto:dok/net)

Pasukan Denjaka merupakan pasukan yang anggotanya cukup banyak. Mereka terdiri dari orang – orang yang tidak sembarangan. Saban tahun ratusan orang mendaftar jadi anggota pasukan Denjaka, namun hanya 50 orang yang lolos. Satu demi satu tumbang setelah melakukan proses seleksi dan latihan sangat mengerikan.

Mulai dari proses seleksi sampai latihan-latihan yang super berat dan mengerikan harus dilalui setiap prajurit Denjaka TNI AL.  Di antaranya, mereka harus berenang  di laut dengan tangan dan kaki terikat. Mereka harus bisa lolos dari ikatan itu. Hal ini dilakukan untuk berjaga-jaga jika kondisi tersebut ditemui saat perang dan musuh menghukum mereka dengan cara demikian.

Selain itu, Anggota Denjaka dilepas di hutan berminggu-minggu dengan hanya berbekal garam. Bagaimana caranya mereka harus bertahan hidup dengan bekal tersebut! Saat di udara juga demikian. Mereka harus bisa terjun dari pesawat dengan ketinggian yang tidak bisa dideteksi musuh.

Latihan yang dianggap keras ini bukan untuk menyakiti tetapi memiliki tujuan khusus sebagai latihan mental. Itulah kenapa jika Denjaka TNI AL banjir pujian saat latihan bersama “Asean Defence Ministers Meeting-Plus Maritime Security dan Counter Terorrism Exercise 2016” (ADMM-Plus On MS and CT Exercise 2016) di Brunei Darusalam dan Singapura.

Dinas Penerangan Armada Timur (Dispenarmatim) dalam siaran persnya menjelaskan jika Sultan Brunei Darussalam, Sultan Hassanal Bolkiah dan perwakilan delegasi dari masing-masing negara peserta ADMM-Plus On MS and CT Exercise 2016 menyatakan salut atas kemampuan prajurit-prajurit pilihan dari Denjaka TNI AL ini.

Sejarah

Sejarah terbentuknya pasukan elit Denjaka TNI AL sebenarnya sudah cukup panjang. Yakni sejak 4 November 1982. Waktu itu,  KSAL membentuk organisasi tugas dengan nama Pasukan Khusus AL (Pasusla). Keberadaan Pasusla didesak oleh kebutuhan akan adanya pasukan khusus TNI AL guna menanggulangi segala bentuk ancaman aspek laut. Misalnya terorisme, sabotase, dan berbagai ancaman lainnya.

Pada tahap pertama, direkrut 70 personel dari Batalyon Intai Amfibi (Yontaifib) dan Komando Pasukan Katak (Kopaska). Komando dan pengendalian pembinaan di bawah Panglima Armada Barat dengan asistensi Komandan Korps Marinir. KSAL bertindak selaku pengendali operasional. Markas ditetapkan di Mako Armabar.

Melihat perkembangan dan kebutuhan satuan khusus ini, KSAL menyurati Panglima TNI yang isinya berkisar keinginan membentuk Detasemen Jala Mangkara. Panglima ABRI menyetujui dan sejak itu (13 November 1984), Denjaka menjadi satuan Antiteror Aspek Laut. Merunut keputusan KSAL, Denjaka adalah komando pelaksana Korps Marinir yang mempunyai tugas pokok melaksanakan pembinaan kemampuan dan kekuatan dalam rangka melaksanakan operasi antiteror, antisabotase, dan klandesten aspek laut atas perintah Panglima TNI.

Siap Tempur di Darat, Laut dan Udara (Foto: dok/net)

Siap Tempur di Darat, Laut dan Udara (Foto: dok/net)

Pola rekrutmen Denjaka dimulai sejak pendidikan para dan komando. Selangkah sebelum masuk ke Denjaka, prajurit terpilih mesti sudah berkualifikasi Intai Amfibi. Dalam menjalankan aksinya, satuan khusus ini dapat digerakkan menuju sasaran baik lewat permukaan/bawah laut maupun lewat udara. TNI AL masih memiliki satu pasukan khusus lagi, yaitu Komando Pasukan Katak (Kopaska). Kedua satuan pernah beberapa kali melakukan latihan gabungan dengan US Navy SEAL.

Denjaka terdiri dari satu markas detasemen, satu tim markas, satu tim teknik dan tiga tim tempur. Sebagai unsur pelaksana, prajurit Denjaka ditutut memiliki kesiapan operasional mobilitas kecepatan, kerahasiaan dan pendadakan yang tertinggi serta medan operasi yang berupa kapal-kapal, instalasi lepas pantai dan daerah pantai. Disamping itu juga memiliki keterampilan mendekati sasaran melalui laut, bawah laut dan vertikal dari udara.

Setiap prajurit Denjaka dibekali kursus penanggulangan antiteror aspek laut yang bermaterikan:    Intelijen, taktik dan teknik anti-teror, anti-sabotase, dasar-dasar spesialisasi, komando kelautan dan keparaan lanjutan. Kursus ini dilaksanakan setiap kurang lebih 5,5 bulan bertempat di Jakarta dan sekitarnya.

Kursus-kursus tersebut kemudian dilanjutkan dengan materi pemeliharaan kecakapan dan peningkatan kemampuan kemahiran kualifikasi Taifib dan Paska, pemeliharaan dan peningkatan kemampuan menembak, lari dan berenang, peningkatan kemampuan bela diri, penguasaan taktis dan teknik penetrasi rahasia, darat, laut dan udara, penguasaan taktik dan teknik untuk merebut dan menguasai instalasi di laut, kapal, pelabuhan/pangkalan dan personel yang disandera di objek vital di laut, penguasaan taktik dan teknik operasi klandestin aspek laut, pengetahuan tentang terorisme dan sabotase, penjinakan bahan peledak, dan peningkatan kemampuan survival, pelolosan diri, pengendapan, dan ketahanan interogasi.

Untuk mendukung operasi personel Denjaka dibekali antara lain submachine gun MP5, HK PSG1, Daewoo K7, senapan serbu G36, HK416, M4, Pindad ss-1, CZ-58, senapan mesin ringan Minimi M60, Daewoo K3, serta pistol Beretta, HK P30 dan SIG Sauer 9 mm.

Beberapa perwira yang pernah memimpin Denjaka antara lain adalah Letjen TNI (Mar) Nono Sampono (AAL 1976), Mayjen TNI (Mar) Yussuf Solichien dan Letjen TNI (Mar) M. Alfan Baharudin (AAL 1981). Komandan Denjaka yang sekarang menjabat adalah Kolonel Marinir Supriyono, S.E. (nas/dari beberapa sumber)

Comments

comments

December 2, 2016   INSTITUSI - 20969 Views

Diakui Dunia, Kemampuan Prajurit Denjaka TNI Al Setara 120 Tentara Biasa

Editor: Nasmay L. Anas
Diakui Dunia, Kemampuan Prajurit Denjaka TNI Al Setara 120 Tentara Biasa

PRESTASIINDONESIA.CO.- Satuan-satuan tempur elit Indonesia dikenal memiliki kemampuan yang diakui dunia. Bahkan sejumlah negara besar dunia seperti  Amerika Serikat dan Rusia pun sudah menyatakan pengakuannya terhadap kehebatan para prajurit pilihan TNI ini. Dan salah satu pasukan elit TNI yang dikenal memiliki kemampuan luar biasa adalah Detasemen Jala Mengkara TNI Angkatan Laut (Denjaka TNI AL).

Bagaimana tidak? Denjaka TNI AL sebagai salah satu satuan tempur elit TNI disebut-sebut sebagai pasukan yang sulit dicari tandingannya. Sebab sebagai satuan antiteror, terutama menjaga wilayah perairan Indonesia, kekuatan satu prajurit Denjaka digadang-gadang setara dengan 120 orang TNI biasa.

Baca juga: http://www.prestasiindonesia.co/kagumi-kekuatan-militer-indonesia-para-jenderal-as-bicara-blak-blakan/

Para anggota Denjaka TNI AL merupakan prajurit khusus. Satuan tempur ini berasal dari gabungan anggota pasukan elit TNI AL lainnya. Yakni Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Batalyon Intai Amfibi (Taifib).

Karena memang berasal dari TNI AL, maka Denjaka dianggap sebagai pasukan di bawah komando TNI AL. Meski demikian pasukan elit ini memiliki keunikan tersendiri. Sebab satuan ini tidak hanya mampu bergerak di laut, tapi juga di darat, laut, dan udara. Karena kemampuan mereka yang luar biasa ini, mereka sering dilibatkan untuk mengamankan kegiatan presiden.

Melepaskan ikatan kaki dan tangan di dalam air (foto:dok/net)

Melepaskan ikatan kaki dan tangan di dalam air (foto:dok/net)

Pasukan Denjaka merupakan pasukan yang anggotanya cukup banyak. Mereka terdiri dari orang – orang yang tidak sembarangan. Saban tahun ratusan orang mendaftar jadi anggota pasukan Denjaka, namun hanya 50 orang yang lolos. Satu demi satu tumbang setelah melakukan proses seleksi dan latihan sangat mengerikan.

Mulai dari proses seleksi sampai latihan-latihan yang super berat dan mengerikan harus dilalui setiap prajurit Denjaka TNI AL.  Di antaranya, mereka harus berenang  di laut dengan tangan dan kaki terikat. Mereka harus bisa lolos dari ikatan itu. Hal ini dilakukan untuk berjaga-jaga jika kondisi tersebut ditemui saat perang dan musuh menghukum mereka dengan cara demikian.

Selain itu, Anggota Denjaka dilepas di hutan berminggu-minggu dengan hanya berbekal garam. Bagaimana caranya mereka harus bertahan hidup dengan bekal tersebut! Saat di udara juga demikian. Mereka harus bisa terjun dari pesawat dengan ketinggian yang tidak bisa dideteksi musuh.

Latihan yang dianggap keras ini bukan untuk menyakiti tetapi memiliki tujuan khusus sebagai latihan mental. Itulah kenapa jika Denjaka TNI AL banjir pujian saat latihan bersama “Asean Defence Ministers Meeting-Plus Maritime Security dan Counter Terorrism Exercise 2016” (ADMM-Plus On MS and CT Exercise 2016) di Brunei Darusalam dan Singapura.

Dinas Penerangan Armada Timur (Dispenarmatim) dalam siaran persnya menjelaskan jika Sultan Brunei Darussalam, Sultan Hassanal Bolkiah dan perwakilan delegasi dari masing-masing negara peserta ADMM-Plus On MS and CT Exercise 2016 menyatakan salut atas kemampuan prajurit-prajurit pilihan dari Denjaka TNI AL ini.

Sejarah

Sejarah terbentuknya pasukan elit Denjaka TNI AL sebenarnya sudah cukup panjang. Yakni sejak 4 November 1982. Waktu itu,  KSAL membentuk organisasi tugas dengan nama Pasukan Khusus AL (Pasusla). Keberadaan Pasusla didesak oleh kebutuhan akan adanya pasukan khusus TNI AL guna menanggulangi segala bentuk ancaman aspek laut. Misalnya terorisme, sabotase, dan berbagai ancaman lainnya.

Pada tahap pertama, direkrut 70 personel dari Batalyon Intai Amfibi (Yontaifib) dan Komando Pasukan Katak (Kopaska). Komando dan pengendalian pembinaan di bawah Panglima Armada Barat dengan asistensi Komandan Korps Marinir. KSAL bertindak selaku pengendali operasional. Markas ditetapkan di Mako Armabar.

Melihat perkembangan dan kebutuhan satuan khusus ini, KSAL menyurati Panglima TNI yang isinya berkisar keinginan membentuk Detasemen Jala Mangkara. Panglima ABRI menyetujui dan sejak itu (13 November 1984), Denjaka menjadi satuan Antiteror Aspek Laut. Merunut keputusan KSAL, Denjaka adalah komando pelaksana Korps Marinir yang mempunyai tugas pokok melaksanakan pembinaan kemampuan dan kekuatan dalam rangka melaksanakan operasi antiteror, antisabotase, dan klandesten aspek laut atas perintah Panglima TNI.

Siap Tempur di Darat, Laut dan Udara (Foto: dok/net)

Siap Tempur di Darat, Laut dan Udara (Foto: dok/net)

Pola rekrutmen Denjaka dimulai sejak pendidikan para dan komando. Selangkah sebelum masuk ke Denjaka, prajurit terpilih mesti sudah berkualifikasi Intai Amfibi. Dalam menjalankan aksinya, satuan khusus ini dapat digerakkan menuju sasaran baik lewat permukaan/bawah laut maupun lewat udara. TNI AL masih memiliki satu pasukan khusus lagi, yaitu Komando Pasukan Katak (Kopaska). Kedua satuan pernah beberapa kali melakukan latihan gabungan dengan US Navy SEAL.

Denjaka terdiri dari satu markas detasemen, satu tim markas, satu tim teknik dan tiga tim tempur. Sebagai unsur pelaksana, prajurit Denjaka ditutut memiliki kesiapan operasional mobilitas kecepatan, kerahasiaan dan pendadakan yang tertinggi serta medan operasi yang berupa kapal-kapal, instalasi lepas pantai dan daerah pantai. Disamping itu juga memiliki keterampilan mendekati sasaran melalui laut, bawah laut dan vertikal dari udara.

Setiap prajurit Denjaka dibekali kursus penanggulangan antiteror aspek laut yang bermaterikan:    Intelijen, taktik dan teknik anti-teror, anti-sabotase, dasar-dasar spesialisasi, komando kelautan dan keparaan lanjutan. Kursus ini dilaksanakan setiap kurang lebih 5,5 bulan bertempat di Jakarta dan sekitarnya.

Kursus-kursus tersebut kemudian dilanjutkan dengan materi pemeliharaan kecakapan dan peningkatan kemampuan kemahiran kualifikasi Taifib dan Paska, pemeliharaan dan peningkatan kemampuan menembak, lari dan berenang, peningkatan kemampuan bela diri, penguasaan taktis dan teknik penetrasi rahasia, darat, laut dan udara, penguasaan taktik dan teknik untuk merebut dan menguasai instalasi di laut, kapal, pelabuhan/pangkalan dan personel yang disandera di objek vital di laut, penguasaan taktik dan teknik operasi klandestin aspek laut, pengetahuan tentang terorisme dan sabotase, penjinakan bahan peledak, dan peningkatan kemampuan survival, pelolosan diri, pengendapan, dan ketahanan interogasi.

Untuk mendukung operasi personel Denjaka dibekali antara lain submachine gun MP5, HK PSG1, Daewoo K7, senapan serbu G36, HK416, M4, Pindad ss-1, CZ-58, senapan mesin ringan Minimi M60, Daewoo K3, serta pistol Beretta, HK P30 dan SIG Sauer 9 mm.

Beberapa perwira yang pernah memimpin Denjaka antara lain adalah Letjen TNI (Mar) Nono Sampono (AAL 1976), Mayjen TNI (Mar) Yussuf Solichien dan Letjen TNI (Mar) M. Alfan Baharudin (AAL 1981). Komandan Denjaka yang sekarang menjabat adalah Kolonel Marinir Supriyono, S.E. (nas/dari beberapa sumber)

Comments

comments

PRESTASIINDONESIA.CO.- Satuan-satuan tempur elit Indonesia dikenal memiliki kemampuan yang diakui dunia. Bahkan sejumlah negara besar dunia seperti  Amerika Serikat dan Rusia pun sudah menyatakan pengakuannya terhadap kehebatan para prajurit pilihan TNI ini. Dan salah satu pasukan elit TNI yang dikenal memiliki kemampuan luar biasa adalah Detasemen Jala Mengkara TNI Angkatan Laut (Denjaka TNI AL).

Bagaimana tidak? Denjaka TNI AL sebagai salah satu satuan tempur elit TNI disebut-sebut sebagai pasukan yang sulit dicari tandingannya. Sebab sebagai satuan antiteror, terutama menjaga wilayah perairan Indonesia, kekuatan satu prajurit Denjaka digadang-gadang setara dengan 120 orang TNI biasa.

Baca juga: http://www.prestasiindonesia.co/kagumi-kekuatan-militer-indonesia-para-jenderal-as-bicara-blak-blakan/

Para anggota Denjaka TNI AL merupakan prajurit khusus. Satuan tempur ini berasal dari gabungan anggota pasukan elit TNI AL lainnya. Yakni Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Batalyon Intai Amfibi (Taifib).

Karena memang berasal dari TNI AL, maka Denjaka dianggap sebagai pasukan di bawah komando TNI AL. Meski demikian pasukan elit ini memiliki keunikan tersendiri. Sebab satuan ini tidak hanya mampu bergerak di laut, tapi juga di darat, laut, dan udara. Karena kemampuan mereka yang luar biasa ini, mereka sering dilibatkan untuk mengamankan kegiatan presiden.

Melepaskan ikatan kaki dan tangan di dalam air (foto:dok/net)

Melepaskan ikatan kaki dan tangan di dalam air (foto:dok/net)

Pasukan Denjaka merupakan pasukan yang anggotanya cukup banyak. Mereka terdiri dari orang – orang yang tidak sembarangan. Saban tahun ratusan orang mendaftar jadi anggota pasukan Denjaka, namun hanya 50 orang yang lolos. Satu demi satu tumbang setelah melakukan proses seleksi dan latihan sangat mengerikan.

Mulai dari proses seleksi sampai latihan-latihan yang super berat dan mengerikan harus dilalui setiap prajurit Denjaka TNI AL.  Di antaranya, mereka harus berenang  di laut dengan tangan dan kaki terikat. Mereka harus bisa lolos dari ikatan itu. Hal ini dilakukan untuk berjaga-jaga jika kondisi tersebut ditemui saat perang dan musuh menghukum mereka dengan cara demikian.

Selain itu, Anggota Denjaka dilepas di hutan berminggu-minggu dengan hanya berbekal garam. Bagaimana caranya mereka harus bertahan hidup dengan bekal tersebut! Saat di udara juga demikian. Mereka harus bisa terjun dari pesawat dengan ketinggian yang tidak bisa dideteksi musuh.

Latihan yang dianggap keras ini bukan untuk menyakiti tetapi memiliki tujuan khusus sebagai latihan mental. Itulah kenapa jika Denjaka TNI AL banjir pujian saat latihan bersama “Asean Defence Ministers Meeting-Plus Maritime Security dan Counter Terorrism Exercise 2016” (ADMM-Plus On MS and CT Exercise 2016) di Brunei Darusalam dan Singapura.

Dinas Penerangan Armada Timur (Dispenarmatim) dalam siaran persnya menjelaskan jika Sultan Brunei Darussalam, Sultan Hassanal Bolkiah dan perwakilan delegasi dari masing-masing negara peserta ADMM-Plus On MS and CT Exercise 2016 menyatakan salut atas kemampuan prajurit-prajurit pilihan dari Denjaka TNI AL ini.

Sejarah

Sejarah terbentuknya pasukan elit Denjaka TNI AL sebenarnya sudah cukup panjang. Yakni sejak 4 November 1982. Waktu itu,  KSAL membentuk organisasi tugas dengan nama Pasukan Khusus AL (Pasusla). Keberadaan Pasusla didesak oleh kebutuhan akan adanya pasukan khusus TNI AL guna menanggulangi segala bentuk ancaman aspek laut. Misalnya terorisme, sabotase, dan berbagai ancaman lainnya.

Pada tahap pertama, direkrut 70 personel dari Batalyon Intai Amfibi (Yontaifib) dan Komando Pasukan Katak (Kopaska). Komando dan pengendalian pembinaan di bawah Panglima Armada Barat dengan asistensi Komandan Korps Marinir. KSAL bertindak selaku pengendali operasional. Markas ditetapkan di Mako Armabar.

Melihat perkembangan dan kebutuhan satuan khusus ini, KSAL menyurati Panglima TNI yang isinya berkisar keinginan membentuk Detasemen Jala Mangkara. Panglima ABRI menyetujui dan sejak itu (13 November 1984), Denjaka menjadi satuan Antiteror Aspek Laut. Merunut keputusan KSAL, Denjaka adalah komando pelaksana Korps Marinir yang mempunyai tugas pokok melaksanakan pembinaan kemampuan dan kekuatan dalam rangka melaksanakan operasi antiteror, antisabotase, dan klandesten aspek laut atas perintah Panglima TNI.

Siap Tempur di Darat, Laut dan Udara (Foto: dok/net)

Siap Tempur di Darat, Laut dan Udara (Foto: dok/net)

Pola rekrutmen Denjaka dimulai sejak pendidikan para dan komando. Selangkah sebelum masuk ke Denjaka, prajurit terpilih mesti sudah berkualifikasi Intai Amfibi. Dalam menjalankan aksinya, satuan khusus ini dapat digerakkan menuju sasaran baik lewat permukaan/bawah laut maupun lewat udara. TNI AL masih memiliki satu pasukan khusus lagi, yaitu Komando Pasukan Katak (Kopaska). Kedua satuan pernah beberapa kali melakukan latihan gabungan dengan US Navy SEAL.

Denjaka terdiri dari satu markas detasemen, satu tim markas, satu tim teknik dan tiga tim tempur. Sebagai unsur pelaksana, prajurit Denjaka ditutut memiliki kesiapan operasional mobilitas kecepatan, kerahasiaan dan pendadakan yang tertinggi serta medan operasi yang berupa kapal-kapal, instalasi lepas pantai dan daerah pantai. Disamping itu juga memiliki keterampilan mendekati sasaran melalui laut, bawah laut dan vertikal dari udara.

Setiap prajurit Denjaka dibekali kursus penanggulangan antiteror aspek laut yang bermaterikan:    Intelijen, taktik dan teknik anti-teror, anti-sabotase, dasar-dasar spesialisasi, komando kelautan dan keparaan lanjutan. Kursus ini dilaksanakan setiap kurang lebih 5,5 bulan bertempat di Jakarta dan sekitarnya.

Kursus-kursus tersebut kemudian dilanjutkan dengan materi pemeliharaan kecakapan dan peningkatan kemampuan kemahiran kualifikasi Taifib dan Paska, pemeliharaan dan peningkatan kemampuan menembak, lari dan berenang, peningkatan kemampuan bela diri, penguasaan taktis dan teknik penetrasi rahasia, darat, laut dan udara, penguasaan taktik dan teknik untuk merebut dan menguasai instalasi di laut, kapal, pelabuhan/pangkalan dan personel yang disandera di objek vital di laut, penguasaan taktik dan teknik operasi klandestin aspek laut, pengetahuan tentang terorisme dan sabotase, penjinakan bahan peledak, dan peningkatan kemampuan survival, pelolosan diri, pengendapan, dan ketahanan interogasi.

Untuk mendukung operasi personel Denjaka dibekali antara lain submachine gun MP5, HK PSG1, Daewoo K7, senapan serbu G36, HK416, M4, Pindad ss-1, CZ-58, senapan mesin ringan Minimi M60, Daewoo K3, serta pistol Beretta, HK P30 dan SIG Sauer 9 mm.

Beberapa perwira yang pernah memimpin Denjaka antara lain adalah Letjen TNI (Mar) Nono Sampono (AAL 1976), Mayjen TNI (Mar) Yussuf Solichien dan Letjen TNI (Mar) M. Alfan Baharudin (AAL 1981). Komandan Denjaka yang sekarang menjabat adalah Kolonel Marinir Supriyono, S.E. (nas/dari beberapa sumber)

Comments

comments