January 19, 2019   OLAHRAGA - 3016 Views

Lomba Lompat Batu di Nias dan Orang Terbang di NTT

Editor: Nasmay L. Anas
Lomba Lompat Batu di Nias dan Orang Terbang di NTT

BANDUNG, PRESTASIINDONESIA.CO.-  Ketika prestasi olahraga nasional tidak memperlihatkan kemajuan yang berarti, mestinya kita bisa melihat kelebihan yang mampu diperlihatkan anak bangsa. Dan kita belajar dari situ. Di antaranya kita mungkin bisa belajar dari kearifan lokal yang dimiliki anak bangsa.

Hal itu dikatakan pemerhati budaya Pitan Daslani MA, ketika berbincang dengan prestasiindonesia.co di sebuah kafe di Kota Kembang Bandung, Sabtu (19/01).

“Kenapa KONI tidak mau melihat berbagai keajaiban yang dapat dicapai dan biasa dilakukan banyak orang di sejumlah suku di tanah air? Negara kita yang majemuk, dengan begitu banyak suku yang menempati ribuan pulau dan aneka ragam bahasa dan budaya, mestinya dapat membangkitkan optimisme kita untuk menggapai kemajuan demi kemajuan,” katanya.

Dikatakannya, salah satu kearifan lokal atau “local wisdom” yang dimiliki anak bangsa adalah tradisi pertandingan lompat batu di Kabupaten Nias Selatan.

Seperti dilansir  niassatu.com, 2 pelompat Nias Selatan berhasil mencatatkan rekor ketinggian lompatan pada pertandingan Lompat Batu yang digelar pada Senin, 12 September 2016 di Lapangan Orurusa, Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan.

“Juara I diraih oleh April Haria dari Desa BawOmataluo dan Marius Fau dari Desa Orahili Fau. Keduanya berhasil melompati dengan ketinggian yang sama, yakni 2,45 meter,” ujar Koordinator pertandingan Lompat Batu Dasa Manao kepada Nias Satu.

 

Ilustrasi Orang Terbang (Dok. kupangpos.com)

Ketinggian lompatan tersebut menjadi salah satu dari rekor lompatan tertinggi yang pernah dibuat sejauh ini.

Di peringkat kedua, tiga pelompat menorehkan capaian ketinggian pada 2,40 meter. Mereka adalah Arlinus Manao dan Iman Bu’ulolo dari Desa Bawomataluo serta Kornelius Dakhi dari Desa Hilisimaetano.

Pada posisi ketiga, empat pelompat berhasil menorehkan capaian pada ketinggian 2,35 meter. Mereka adalah Albert Fau dan Juplin Nehe dari Desa Orahili Fau, Dedi Y. Duha dari Desa Hilisatarö dan Pasti Wehalo dari Desa Hilimondregeraya.

Menurut sumber yang sama, perlombaan lompat batu yang menjadi salah satu tradisi dari muatan lokal di Nias Selatan ini benar-benar luar biasa. Total peserta lomba mencapai 86 orang dari berbagai desa. Di antaranya, Desa Bawomataluo, Orahili Fau, Hilisimaetano, Botohilitano, Hiliamaeta, Siwalawa, Bawonahono, Hiligeho, Hilisataro, Hilinawalo Mazino dan Hilimondregeraya.

Untuk diketahui, atraksi lompat batu ini hanya ada di Pulau Nias, khususnya di wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Nias Selatan. Itu pun, hanya beberapa desa yang dilengkapi dengan Lompat Batu tersebut. Ketinggian batu bervariasi, rata-rata antara 2 meter hingga 2,2 meter.

Pertandingan lompat batu biasanya menjadi salah satu kegiatan pembuka acara Pesta Ya’ahowu. Di Kabupaten Nias Selatan, sebagai lokasi pembukaan acara yang melibatkan seluruh kabupaten/kota di Pulau Nias tersebut mengawalinya dengan pertandingan lompat batu dan selancar.

Pitan Daslani, yang berasal dari Alor NTT, mengingatkan bahwa kearifan lokal di bumi pertiwi ini banyak yang ajaib. Karenanya bisa dijadikan sebagai salah satu daya tarik wisata. Orang asing tidak akan habis pikir bila menyaksikan hal-hal super ajaib yang mampu dilakukan anak bangsa.

Keajaiban di Alor NTT

“Di ALor, pulau yang kurang atau tidak dikenal itu pun ada banyak kearifan lokal seperti perlombaan lompat batu di Nias. Sebab di Alor, ada orang bisa menyelam antar pulau. Terjun di satu pulau, lalu muncul di pulau lain. Yang model David Copperfield itu ada banyak di negeri kita,” katanya.

Ditambahkannya, orang yang bisa menghilang di hadapan banyak orang ada di negeri kita. Kita tidak tahu dari mana teknologinya diambil.  Apakah mereka itu pakai tenaga dalam atau tenaga luar angkasa, kita tidak tahu. Yang pasti, kita bisa bikin bingung orang bule bila mereka datang melihat itu. Karena itu, sangat baik bila dijadikan obyek wisata.

Menurut laporan bisniswisata.co.id, hal-hal yang aneh tapi terjadi di NTT. Di antaranya, Pemerintah Propinsi NTT berencana menggelar lomba “terbang” dengan menggunakan kekuatan metafisika. Lomba yang pertama kali digelar ini, akan berlangsung di Kabupaten Alor pada Agustus 2019.

“Lomba terbang ini rencananya akan digelar bersamaan dengan kegiatan tahunan Expo Alor 2019,” kata Kepala Bidang Pemasaran dan Perencanaan Dinas Pariwisata NTT Eden Kalakik kepada Antara di Kupang, Selasa (20/3/2018).

Menurut dia, gagasan untuk menggelar lomba “terbang” ini muncul setelah melihat sejumlah fakta yang terjadi di wilayah yang berjulukan Pulau Kenari itu dalam beberapa tahun terakhir.

“Daripada hampir setiap Minggu ada manusia terbang yang jatuh karena tabrak tower dan tabrak gedung, lebih baik kita gelar lomba supaya bisa mendatangkan manfaat untuk masyarakat daerah, sekaligus menjadi daya tarik periwisata agar wisatawan penasaran untuk datang ke Alor NTT,” kata Eden Klakik.

Eden Klakik dari Alor ini mengisahkan, pada September 2017, salah seorang yang baru pulang mengikuti pertemuan suanggi sedunia di Vietnam jatuh di belakang Kantor Bupati Alor karena menabrak tower Telkomsel. “Dan saya berpikir, lebih baik kita mengkoordinir mereka semua dalam satu wadah dan kita bisa buatkan event tahunan di Alor,” pungkasnya. (Ist)

Catatan: Foto utama berita ini memperlihatkan April Haria sedang melakukan lompatan pamungkas pada pertandingan Lompat Batu di Nias Selatan, 12 September 2016 | Dok/Foto: Bambang Aryadi Ndraha, niassatu.com.

 

 

Comments

comments

BANDUNG, PRESTASIINDONESIA.CO.-  Ketika prestasi olahraga nasional tidak memperlihatkan kemajuan yang berarti, mestinya kita bisa melihat kelebihan yang mampu diperlihatkan anak bangsa. Dan kita belajar dari situ. Di antaranya kita mungkin bisa belajar dari kearifan lokal yang dimiliki anak bangsa.

Hal itu dikatakan pemerhati budaya Pitan Daslani MA, ketika berbincang dengan prestasiindonesia.co di sebuah kafe di Kota Kembang Bandung, Sabtu (19/01).

“Kenapa KONI tidak mau melihat berbagai keajaiban yang dapat dicapai dan biasa dilakukan banyak orang di sejumlah suku di tanah air? Negara kita yang majemuk, dengan begitu banyak suku yang menempati ribuan pulau dan aneka ragam bahasa dan budaya, mestinya dapat membangkitkan optimisme kita untuk menggapai kemajuan demi kemajuan,” katanya.

Dikatakannya, salah satu kearifan lokal atau “local wisdom” yang dimiliki anak bangsa adalah tradisi pertandingan lompat batu di Kabupaten Nias Selatan.

Seperti dilansir  niassatu.com, 2 pelompat Nias Selatan berhasil mencatatkan rekor ketinggian lompatan pada pertandingan Lompat Batu yang digelar pada Senin, 12 September 2016 di Lapangan Orurusa, Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan.

“Juara I diraih oleh April Haria dari Desa BawOmataluo dan Marius Fau dari Desa Orahili Fau. Keduanya berhasil melompati dengan ketinggian yang sama, yakni 2,45 meter,” ujar Koordinator pertandingan Lompat Batu Dasa Manao kepada Nias Satu.

 

Ilustrasi Orang Terbang (Dok. kupangpos.com)

Ketinggian lompatan tersebut menjadi salah satu dari rekor lompatan tertinggi yang pernah dibuat sejauh ini.

Di peringkat kedua, tiga pelompat menorehkan capaian ketinggian pada 2,40 meter. Mereka adalah Arlinus Manao dan Iman Bu’ulolo dari Desa Bawomataluo serta Kornelius Dakhi dari Desa Hilisimaetano.

Pada posisi ketiga, empat pelompat berhasil menorehkan capaian pada ketinggian 2,35 meter. Mereka adalah Albert Fau dan Juplin Nehe dari Desa Orahili Fau, Dedi Y. Duha dari Desa Hilisatarö dan Pasti Wehalo dari Desa Hilimondregeraya.

Menurut sumber yang sama, perlombaan lompat batu yang menjadi salah satu tradisi dari muatan lokal di Nias Selatan ini benar-benar luar biasa. Total peserta lomba mencapai 86 orang dari berbagai desa. Di antaranya, Desa Bawomataluo, Orahili Fau, Hilisimaetano, Botohilitano, Hiliamaeta, Siwalawa, Bawonahono, Hiligeho, Hilisataro, Hilinawalo Mazino dan Hilimondregeraya.

Untuk diketahui, atraksi lompat batu ini hanya ada di Pulau Nias, khususnya di wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Nias Selatan. Itu pun, hanya beberapa desa yang dilengkapi dengan Lompat Batu tersebut. Ketinggian batu bervariasi, rata-rata antara 2 meter hingga 2,2 meter.

Pertandingan lompat batu biasanya menjadi salah satu kegiatan pembuka acara Pesta Ya’ahowu. Di Kabupaten Nias Selatan, sebagai lokasi pembukaan acara yang melibatkan seluruh kabupaten/kota di Pulau Nias tersebut mengawalinya dengan pertandingan lompat batu dan selancar.

Pitan Daslani, yang berasal dari Alor NTT, mengingatkan bahwa kearifan lokal di bumi pertiwi ini banyak yang ajaib. Karenanya bisa dijadikan sebagai salah satu daya tarik wisata. Orang asing tidak akan habis pikir bila menyaksikan hal-hal super ajaib yang mampu dilakukan anak bangsa.

Keajaiban di Alor NTT

“Di ALor, pulau yang kurang atau tidak dikenal itu pun ada banyak kearifan lokal seperti perlombaan lompat batu di Nias. Sebab di Alor, ada orang bisa menyelam antar pulau. Terjun di satu pulau, lalu muncul di pulau lain. Yang model David Copperfield itu ada banyak di negeri kita,” katanya.

Ditambahkannya, orang yang bisa menghilang di hadapan banyak orang ada di negeri kita. Kita tidak tahu dari mana teknologinya diambil.  Apakah mereka itu pakai tenaga dalam atau tenaga luar angkasa, kita tidak tahu. Yang pasti, kita bisa bikin bingung orang bule bila mereka datang melihat itu. Karena itu, sangat baik bila dijadikan obyek wisata.

Menurut laporan bisniswisata.co.id, hal-hal yang aneh tapi terjadi di NTT. Di antaranya, Pemerintah Propinsi NTT berencana menggelar lomba “terbang” dengan menggunakan kekuatan metafisika. Lomba yang pertama kali digelar ini, akan berlangsung di Kabupaten Alor pada Agustus 2019.

“Lomba terbang ini rencananya akan digelar bersamaan dengan kegiatan tahunan Expo Alor 2019,” kata Kepala Bidang Pemasaran dan Perencanaan Dinas Pariwisata NTT Eden Kalakik kepada Antara di Kupang, Selasa (20/3/2018).

Menurut dia, gagasan untuk menggelar lomba “terbang” ini muncul setelah melihat sejumlah fakta yang terjadi di wilayah yang berjulukan Pulau Kenari itu dalam beberapa tahun terakhir.

“Daripada hampir setiap Minggu ada manusia terbang yang jatuh karena tabrak tower dan tabrak gedung, lebih baik kita gelar lomba supaya bisa mendatangkan manfaat untuk masyarakat daerah, sekaligus menjadi daya tarik periwisata agar wisatawan penasaran untuk datang ke Alor NTT,” kata Eden Klakik.

Eden Klakik dari Alor ini mengisahkan, pada September 2017, salah seorang yang baru pulang mengikuti pertemuan suanggi sedunia di Vietnam jatuh di belakang Kantor Bupati Alor karena menabrak tower Telkomsel. “Dan saya berpikir, lebih baik kita mengkoordinir mereka semua dalam satu wadah dan kita bisa buatkan event tahunan di Alor,” pungkasnya. (Ist)

Catatan: Foto utama berita ini memperlihatkan April Haria sedang melakukan lompatan pamungkas pada pertandingan Lompat Batu di Nias Selatan, 12 September 2016 | Dok/Foto: Bambang Aryadi Ndraha, niassatu.com.

 

 

Comments

comments

January 19, 2019   OLAHRAGA - 3017 Views

Lomba Lompat Batu di Nias dan Orang Terbang di NTT

Editor: Nasmay L. Anas
Lomba Lompat Batu di Nias dan Orang Terbang di NTT

BANDUNG, PRESTASIINDONESIA.CO.-  Ketika prestasi olahraga nasional tidak memperlihatkan kemajuan yang berarti, mestinya kita bisa melihat kelebihan yang mampu diperlihatkan anak bangsa. Dan kita belajar dari situ. Di antaranya kita mungkin bisa belajar dari kearifan lokal yang dimiliki anak bangsa.

Hal itu dikatakan pemerhati budaya Pitan Daslani MA, ketika berbincang dengan prestasiindonesia.co di sebuah kafe di Kota Kembang Bandung, Sabtu (19/01).

“Kenapa KONI tidak mau melihat berbagai keajaiban yang dapat dicapai dan biasa dilakukan banyak orang di sejumlah suku di tanah air? Negara kita yang majemuk, dengan begitu banyak suku yang menempati ribuan pulau dan aneka ragam bahasa dan budaya, mestinya dapat membangkitkan optimisme kita untuk menggapai kemajuan demi kemajuan,” katanya.

Dikatakannya, salah satu kearifan lokal atau “local wisdom” yang dimiliki anak bangsa adalah tradisi pertandingan lompat batu di Kabupaten Nias Selatan.

Seperti dilansir  niassatu.com, 2 pelompat Nias Selatan berhasil mencatatkan rekor ketinggian lompatan pada pertandingan Lompat Batu yang digelar pada Senin, 12 September 2016 di Lapangan Orurusa, Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan.

“Juara I diraih oleh April Haria dari Desa BawOmataluo dan Marius Fau dari Desa Orahili Fau. Keduanya berhasil melompati dengan ketinggian yang sama, yakni 2,45 meter,” ujar Koordinator pertandingan Lompat Batu Dasa Manao kepada Nias Satu.

 

Ilustrasi Orang Terbang (Dok. kupangpos.com)

Ketinggian lompatan tersebut menjadi salah satu dari rekor lompatan tertinggi yang pernah dibuat sejauh ini.

Di peringkat kedua, tiga pelompat menorehkan capaian ketinggian pada 2,40 meter. Mereka adalah Arlinus Manao dan Iman Bu’ulolo dari Desa Bawomataluo serta Kornelius Dakhi dari Desa Hilisimaetano.

Pada posisi ketiga, empat pelompat berhasil menorehkan capaian pada ketinggian 2,35 meter. Mereka adalah Albert Fau dan Juplin Nehe dari Desa Orahili Fau, Dedi Y. Duha dari Desa Hilisatarö dan Pasti Wehalo dari Desa Hilimondregeraya.

Menurut sumber yang sama, perlombaan lompat batu yang menjadi salah satu tradisi dari muatan lokal di Nias Selatan ini benar-benar luar biasa. Total peserta lomba mencapai 86 orang dari berbagai desa. Di antaranya, Desa Bawomataluo, Orahili Fau, Hilisimaetano, Botohilitano, Hiliamaeta, Siwalawa, Bawonahono, Hiligeho, Hilisataro, Hilinawalo Mazino dan Hilimondregeraya.

Untuk diketahui, atraksi lompat batu ini hanya ada di Pulau Nias, khususnya di wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Nias Selatan. Itu pun, hanya beberapa desa yang dilengkapi dengan Lompat Batu tersebut. Ketinggian batu bervariasi, rata-rata antara 2 meter hingga 2,2 meter.

Pertandingan lompat batu biasanya menjadi salah satu kegiatan pembuka acara Pesta Ya’ahowu. Di Kabupaten Nias Selatan, sebagai lokasi pembukaan acara yang melibatkan seluruh kabupaten/kota di Pulau Nias tersebut mengawalinya dengan pertandingan lompat batu dan selancar.

Pitan Daslani, yang berasal dari Alor NTT, mengingatkan bahwa kearifan lokal di bumi pertiwi ini banyak yang ajaib. Karenanya bisa dijadikan sebagai salah satu daya tarik wisata. Orang asing tidak akan habis pikir bila menyaksikan hal-hal super ajaib yang mampu dilakukan anak bangsa.

Keajaiban di Alor NTT

“Di ALor, pulau yang kurang atau tidak dikenal itu pun ada banyak kearifan lokal seperti perlombaan lompat batu di Nias. Sebab di Alor, ada orang bisa menyelam antar pulau. Terjun di satu pulau, lalu muncul di pulau lain. Yang model David Copperfield itu ada banyak di negeri kita,” katanya.

Ditambahkannya, orang yang bisa menghilang di hadapan banyak orang ada di negeri kita. Kita tidak tahu dari mana teknologinya diambil.  Apakah mereka itu pakai tenaga dalam atau tenaga luar angkasa, kita tidak tahu. Yang pasti, kita bisa bikin bingung orang bule bila mereka datang melihat itu. Karena itu, sangat baik bila dijadikan obyek wisata.

Menurut laporan bisniswisata.co.id, hal-hal yang aneh tapi terjadi di NTT. Di antaranya, Pemerintah Propinsi NTT berencana menggelar lomba “terbang” dengan menggunakan kekuatan metafisika. Lomba yang pertama kali digelar ini, akan berlangsung di Kabupaten Alor pada Agustus 2019.

“Lomba terbang ini rencananya akan digelar bersamaan dengan kegiatan tahunan Expo Alor 2019,” kata Kepala Bidang Pemasaran dan Perencanaan Dinas Pariwisata NTT Eden Kalakik kepada Antara di Kupang, Selasa (20/3/2018).

Menurut dia, gagasan untuk menggelar lomba “terbang” ini muncul setelah melihat sejumlah fakta yang terjadi di wilayah yang berjulukan Pulau Kenari itu dalam beberapa tahun terakhir.

“Daripada hampir setiap Minggu ada manusia terbang yang jatuh karena tabrak tower dan tabrak gedung, lebih baik kita gelar lomba supaya bisa mendatangkan manfaat untuk masyarakat daerah, sekaligus menjadi daya tarik periwisata agar wisatawan penasaran untuk datang ke Alor NTT,” kata Eden Klakik.

Eden Klakik dari Alor ini mengisahkan, pada September 2017, salah seorang yang baru pulang mengikuti pertemuan suanggi sedunia di Vietnam jatuh di belakang Kantor Bupati Alor karena menabrak tower Telkomsel. “Dan saya berpikir, lebih baik kita mengkoordinir mereka semua dalam satu wadah dan kita bisa buatkan event tahunan di Alor,” pungkasnya. (Ist)

Catatan: Foto utama berita ini memperlihatkan April Haria sedang melakukan lompatan pamungkas pada pertandingan Lompat Batu di Nias Selatan, 12 September 2016 | Dok/Foto: Bambang Aryadi Ndraha, niassatu.com.

 

 

Comments

comments

BANDUNG, PRESTASIINDONESIA.CO.-  Ketika prestasi olahraga nasional tidak memperlihatkan kemajuan yang berarti, mestinya kita bisa melihat kelebihan yang mampu diperlihatkan anak bangsa. Dan kita belajar dari situ. Di antaranya kita mungkin bisa belajar dari kearifan lokal yang dimiliki anak bangsa.

Hal itu dikatakan pemerhati budaya Pitan Daslani MA, ketika berbincang dengan prestasiindonesia.co di sebuah kafe di Kota Kembang Bandung, Sabtu (19/01).

“Kenapa KONI tidak mau melihat berbagai keajaiban yang dapat dicapai dan biasa dilakukan banyak orang di sejumlah suku di tanah air? Negara kita yang majemuk, dengan begitu banyak suku yang menempati ribuan pulau dan aneka ragam bahasa dan budaya, mestinya dapat membangkitkan optimisme kita untuk menggapai kemajuan demi kemajuan,” katanya.

Dikatakannya, salah satu kearifan lokal atau “local wisdom” yang dimiliki anak bangsa adalah tradisi pertandingan lompat batu di Kabupaten Nias Selatan.

Seperti dilansir  niassatu.com, 2 pelompat Nias Selatan berhasil mencatatkan rekor ketinggian lompatan pada pertandingan Lompat Batu yang digelar pada Senin, 12 September 2016 di Lapangan Orurusa, Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan.

“Juara I diraih oleh April Haria dari Desa BawOmataluo dan Marius Fau dari Desa Orahili Fau. Keduanya berhasil melompati dengan ketinggian yang sama, yakni 2,45 meter,” ujar Koordinator pertandingan Lompat Batu Dasa Manao kepada Nias Satu.

 

Ilustrasi Orang Terbang (Dok. kupangpos.com)

Ketinggian lompatan tersebut menjadi salah satu dari rekor lompatan tertinggi yang pernah dibuat sejauh ini.

Di peringkat kedua, tiga pelompat menorehkan capaian ketinggian pada 2,40 meter. Mereka adalah Arlinus Manao dan Iman Bu’ulolo dari Desa Bawomataluo serta Kornelius Dakhi dari Desa Hilisimaetano.

Pada posisi ketiga, empat pelompat berhasil menorehkan capaian pada ketinggian 2,35 meter. Mereka adalah Albert Fau dan Juplin Nehe dari Desa Orahili Fau, Dedi Y. Duha dari Desa Hilisatarö dan Pasti Wehalo dari Desa Hilimondregeraya.

Menurut sumber yang sama, perlombaan lompat batu yang menjadi salah satu tradisi dari muatan lokal di Nias Selatan ini benar-benar luar biasa. Total peserta lomba mencapai 86 orang dari berbagai desa. Di antaranya, Desa Bawomataluo, Orahili Fau, Hilisimaetano, Botohilitano, Hiliamaeta, Siwalawa, Bawonahono, Hiligeho, Hilisataro, Hilinawalo Mazino dan Hilimondregeraya.

Untuk diketahui, atraksi lompat batu ini hanya ada di Pulau Nias, khususnya di wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Nias Selatan. Itu pun, hanya beberapa desa yang dilengkapi dengan Lompat Batu tersebut. Ketinggian batu bervariasi, rata-rata antara 2 meter hingga 2,2 meter.

Pertandingan lompat batu biasanya menjadi salah satu kegiatan pembuka acara Pesta Ya’ahowu. Di Kabupaten Nias Selatan, sebagai lokasi pembukaan acara yang melibatkan seluruh kabupaten/kota di Pulau Nias tersebut mengawalinya dengan pertandingan lompat batu dan selancar.

Pitan Daslani, yang berasal dari Alor NTT, mengingatkan bahwa kearifan lokal di bumi pertiwi ini banyak yang ajaib. Karenanya bisa dijadikan sebagai salah satu daya tarik wisata. Orang asing tidak akan habis pikir bila menyaksikan hal-hal super ajaib yang mampu dilakukan anak bangsa.

Keajaiban di Alor NTT

“Di ALor, pulau yang kurang atau tidak dikenal itu pun ada banyak kearifan lokal seperti perlombaan lompat batu di Nias. Sebab di Alor, ada orang bisa menyelam antar pulau. Terjun di satu pulau, lalu muncul di pulau lain. Yang model David Copperfield itu ada banyak di negeri kita,” katanya.

Ditambahkannya, orang yang bisa menghilang di hadapan banyak orang ada di negeri kita. Kita tidak tahu dari mana teknologinya diambil.  Apakah mereka itu pakai tenaga dalam atau tenaga luar angkasa, kita tidak tahu. Yang pasti, kita bisa bikin bingung orang bule bila mereka datang melihat itu. Karena itu, sangat baik bila dijadikan obyek wisata.

Menurut laporan bisniswisata.co.id, hal-hal yang aneh tapi terjadi di NTT. Di antaranya, Pemerintah Propinsi NTT berencana menggelar lomba “terbang” dengan menggunakan kekuatan metafisika. Lomba yang pertama kali digelar ini, akan berlangsung di Kabupaten Alor pada Agustus 2019.

“Lomba terbang ini rencananya akan digelar bersamaan dengan kegiatan tahunan Expo Alor 2019,” kata Kepala Bidang Pemasaran dan Perencanaan Dinas Pariwisata NTT Eden Kalakik kepada Antara di Kupang, Selasa (20/3/2018).

Menurut dia, gagasan untuk menggelar lomba “terbang” ini muncul setelah melihat sejumlah fakta yang terjadi di wilayah yang berjulukan Pulau Kenari itu dalam beberapa tahun terakhir.

“Daripada hampir setiap Minggu ada manusia terbang yang jatuh karena tabrak tower dan tabrak gedung, lebih baik kita gelar lomba supaya bisa mendatangkan manfaat untuk masyarakat daerah, sekaligus menjadi daya tarik periwisata agar wisatawan penasaran untuk datang ke Alor NTT,” kata Eden Klakik.

Eden Klakik dari Alor ini mengisahkan, pada September 2017, salah seorang yang baru pulang mengikuti pertemuan suanggi sedunia di Vietnam jatuh di belakang Kantor Bupati Alor karena menabrak tower Telkomsel. “Dan saya berpikir, lebih baik kita mengkoordinir mereka semua dalam satu wadah dan kita bisa buatkan event tahunan di Alor,” pungkasnya. (Ist)

Catatan: Foto utama berita ini memperlihatkan April Haria sedang melakukan lompatan pamungkas pada pertandingan Lompat Batu di Nias Selatan, 12 September 2016 | Dok/Foto: Bambang Aryadi Ndraha, niassatu.com.

 

 

Comments

comments