November 10, 2019   PROFIL - 1491 Views

SEBAGAI PEMIMPIN MUSLIM DI CHECHNYA, KADYROV TAK HENTI DIKECAM MEDIA BARAT

Editor: Nasmay L. Anas
SEBAGAI PEMIMPIN MUSLIM DI CHECHNYA, KADYROV TAK HENTI DIKECAM MEDIA BARAT

BANDUNG, PRESTASIINDONESIA.CO.- Presiden Chechnya Ramzan Kadyrov belakangan ini banyak diperbincangkan. Berbagai media asing bahkan gencar mengangkat sosok pemimpin muslim yang militan ini. Terutama sisi negatifnya. Seolah menggambarkan bahwa situasi perang dingin itu belum juga berakhir, meski Uni Sovyet sebagai pimpinan Blok Timur sudah lama tak ada.

Media-media Barat yang anti-Islam terutama begitu tampak ketidaksukaannya terhadap sosok yang satu ini. Alih-alih membahas sisi kemanusiaan, kepemimpinannya yang didukung penuh rakyat dan ketegasan sikapnya, media Barat lebih suka mengumbar sisi buruknya. Objektif atau tidak. Berdasarkan data yang akurat atau tidak. Bagi mereka, itu tak penting. Karena keberadaan pemimpin seperti Kadyrov merupakan ancaman bagi dominasi Barat di seantero jagad.

Para pengamat media menilai, tidak sedikit media Barat yang tampak sekali benci terhadap Kadyrov.  Di dalam negeri Chechnya dia sangat disukai rakyatnya. Tapi dalam pemberitaan media Barat dia lebih sering disebut sebagai seorang diktator. Bahkan kadang disebut sebagai pemimpin yang haus darah.

Apalagi ketika Kadyrov memerintahkan tindakan tegas terhadap para pelanggar hukum di negeri itu. Dan Kadyrov disebut-sebut memiliki ribuan pasukan paramiliter tangguh. Mereka dikenal dengan nama “Kadyrovtsky” atau “orang-orangnya Kadyrov”.

Menariknya, April tahun lalu, Kadyrov membuat kebijakan kontroversial. Yakni memperbolehkan polisinya untuk menembak tentara dari kawasan Rusia manapun yang memasuki wilayah Chechnya tanpa ijin. Kebijakan tersebut ia keluarkan setelah seorang buronan Chechnya ditembak mati polisi di sebuah wilayah tetangga Chechnya, Stavropol.

Belakangan juga muncul tuduhan lain. Menurut media-media partisan Barat itu, presiden berusia 39 tahun ini gencar membekuk para pelaku Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT). Dan Kadyrov memang sangat serius membenahi penyakit masyarakat di Chechnya. Sebagai pemimpin muslim yang taat menjalankan ajaran agamanya, Kadyrov memang tidak mengizinkan eksistensi kelompok menyimpang seperti LGBT itu berkembang di Chechnya.

Karena itu, muncul berita-berita yang tidak henti mengekspos sisi-sisi negatif pemerintahan Kadyrov. Di antaranya disebutkan, banyak orang yang ditahan lewat tuduhan palsu. Diinterogasi dengan metode penyiksaan, sampai mengaku sebagai gay. Beberapa orang yang tak kuat disebut-sebut meninggal dunia. Karena itu, mereka ramai-ramai mencari suaka di negara yang lebih ramah LGBT.

“Tuduhan utama terhadap saya adalah adalah bahwa saya gay. Polisi akan berteriak bahwa saya gay, bahwa orang-orang seperti saya harus dibunuh,” kata Mazim Lapunov. Seperti diberitakan beberapa media Barat.

Lapunov disebut-sebut sebagai salah satu korban perburuan LGBT di Republik Chechnya, Rusia. Kejadiannya berlangsung Mei 2017. Ia mengungkapkan pengalaman sedihnya itu di Moskow, yang oleh SBS News dipublikasikan pada Oktober di tahun yang sama.

Tentara Darat Putin

Kadyrov sendiri, yang menyatakan diri sebagai “tentara darat Putin”, telah memerintah Chechnya sejak tahun 2007. Dan karena kedekatannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, dia pun harus berhadapan dengan musuh-musuh besar Putin di dunia Barat.

Beberapa pengamat menilai, meskipun perang dingin telah lama usai, namun perseteruan Barat terhadap Rusia di bawah Putin tampaknya tidak pernah kendor. Apalagi dengan tampilnya para pemimpin Islam yang bahu membahu dengan pemimpin Rusia itu.

Meski demikian, menurut mereka, kebencian dunia Barat terhadap Kadyrov bisa jadi bukan hanya karena kedekatan dan kepatuhannya kepada Putin. Tapi lebih tepatnya karena keteguhannya dalam menjalankan syari’at Islam dan ketegasannya dalam menerapkan hukum sesuai keyakinan agamanya itu.

Belakangan ini nama Kadyrov kembali santer jadi bahan pemberitaan media-media partisan Barat. Setelah ia dikabarkan meminta izin kepada Presiden Putin untuk mengirim ribuan infantri militer Chechnya ke Suriah. Untuk bergabung dengan Angkatan Bersenjata Rusia memerangi ISIS.

Memiliki nama lengkap Ramzan Akhmadovich Kadyrov, pemimpin muda Chechnya ini dilahirkan tanggal 5 Oktober 1976 (39 tahun). Dia ditunjuk Putin sebagai presiden Republik Otonom bagian dari Federasi Rusia. Sebuah wilayah yang terletak di Kaukasus Utara, dengan penduduk sekitar 1.268.989 (sensus resmi tahun 2010). Mayoritas penduduk negeri itu adalah Muslim Sunni dan sebagian Nasrani Orthodoks.

Keberpihakan Kadyrov, baik ayah maupun anak (Akhmad dan Ramzan) kepada Putin, tak lepas dari preferensi keagamaan keduanya. Mereka bermazhab Ahlussunnah wal Jama’ah, penganut tasawwuf dan pengikut thareqat yang sangat cinta pada para Habaib (Habib: orang-orang yang memiliki garis keturunan Rasulullah).

Ramzan diketahui publik selalu memilih sholat di shaf ketiga pada ibadah sholat Jumat. Ia tidak mau maju ke depan karena hormat kepada para Habaib dan Ulama yang mengisi shaf pertama dan kedua.

Sebagai presiden sebuah negara, saat mendapat kehormatan untuk memasuki Ka’bah, ia menanggalkan segala atribut kebesaran kepala negara dan memakai pakaian yang paling sederhana sambil memegang sapu. (Nas/Dari berbagai sumber)

 

Comments

comments

BANDUNG, PRESTASIINDONESIA.CO.- Presiden Chechnya Ramzan Kadyrov belakangan ini banyak diperbincangkan. Berbagai media asing bahkan gencar mengangkat sosok pemimpin muslim yang militan ini. Terutama sisi negatifnya. Seolah menggambarkan bahwa situasi perang dingin itu belum juga berakhir, meski Uni Sovyet sebagai pimpinan Blok Timur sudah lama tak ada.

Media-media Barat yang anti-Islam terutama begitu tampak ketidaksukaannya terhadap sosok yang satu ini. Alih-alih membahas sisi kemanusiaan, kepemimpinannya yang didukung penuh rakyat dan ketegasan sikapnya, media Barat lebih suka mengumbar sisi buruknya. Objektif atau tidak. Berdasarkan data yang akurat atau tidak. Bagi mereka, itu tak penting. Karena keberadaan pemimpin seperti Kadyrov merupakan ancaman bagi dominasi Barat di seantero jagad.

Para pengamat media menilai, tidak sedikit media Barat yang tampak sekali benci terhadap Kadyrov.  Di dalam negeri Chechnya dia sangat disukai rakyatnya. Tapi dalam pemberitaan media Barat dia lebih sering disebut sebagai seorang diktator. Bahkan kadang disebut sebagai pemimpin yang haus darah.

Apalagi ketika Kadyrov memerintahkan tindakan tegas terhadap para pelanggar hukum di negeri itu. Dan Kadyrov disebut-sebut memiliki ribuan pasukan paramiliter tangguh. Mereka dikenal dengan nama “Kadyrovtsky” atau “orang-orangnya Kadyrov”.

Menariknya, April tahun lalu, Kadyrov membuat kebijakan kontroversial. Yakni memperbolehkan polisinya untuk menembak tentara dari kawasan Rusia manapun yang memasuki wilayah Chechnya tanpa ijin. Kebijakan tersebut ia keluarkan setelah seorang buronan Chechnya ditembak mati polisi di sebuah wilayah tetangga Chechnya, Stavropol.

Belakangan juga muncul tuduhan lain. Menurut media-media partisan Barat itu, presiden berusia 39 tahun ini gencar membekuk para pelaku Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT). Dan Kadyrov memang sangat serius membenahi penyakit masyarakat di Chechnya. Sebagai pemimpin muslim yang taat menjalankan ajaran agamanya, Kadyrov memang tidak mengizinkan eksistensi kelompok menyimpang seperti LGBT itu berkembang di Chechnya.

Karena itu, muncul berita-berita yang tidak henti mengekspos sisi-sisi negatif pemerintahan Kadyrov. Di antaranya disebutkan, banyak orang yang ditahan lewat tuduhan palsu. Diinterogasi dengan metode penyiksaan, sampai mengaku sebagai gay. Beberapa orang yang tak kuat disebut-sebut meninggal dunia. Karena itu, mereka ramai-ramai mencari suaka di negara yang lebih ramah LGBT.

“Tuduhan utama terhadap saya adalah adalah bahwa saya gay. Polisi akan berteriak bahwa saya gay, bahwa orang-orang seperti saya harus dibunuh,” kata Mazim Lapunov. Seperti diberitakan beberapa media Barat.

Lapunov disebut-sebut sebagai salah satu korban perburuan LGBT di Republik Chechnya, Rusia. Kejadiannya berlangsung Mei 2017. Ia mengungkapkan pengalaman sedihnya itu di Moskow, yang oleh SBS News dipublikasikan pada Oktober di tahun yang sama.

Tentara Darat Putin

Kadyrov sendiri, yang menyatakan diri sebagai “tentara darat Putin”, telah memerintah Chechnya sejak tahun 2007. Dan karena kedekatannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, dia pun harus berhadapan dengan musuh-musuh besar Putin di dunia Barat.

Beberapa pengamat menilai, meskipun perang dingin telah lama usai, namun perseteruan Barat terhadap Rusia di bawah Putin tampaknya tidak pernah kendor. Apalagi dengan tampilnya para pemimpin Islam yang bahu membahu dengan pemimpin Rusia itu.

Meski demikian, menurut mereka, kebencian dunia Barat terhadap Kadyrov bisa jadi bukan hanya karena kedekatan dan kepatuhannya kepada Putin. Tapi lebih tepatnya karena keteguhannya dalam menjalankan syari’at Islam dan ketegasannya dalam menerapkan hukum sesuai keyakinan agamanya itu.

Belakangan ini nama Kadyrov kembali santer jadi bahan pemberitaan media-media partisan Barat. Setelah ia dikabarkan meminta izin kepada Presiden Putin untuk mengirim ribuan infantri militer Chechnya ke Suriah. Untuk bergabung dengan Angkatan Bersenjata Rusia memerangi ISIS.

Memiliki nama lengkap Ramzan Akhmadovich Kadyrov, pemimpin muda Chechnya ini dilahirkan tanggal 5 Oktober 1976 (39 tahun). Dia ditunjuk Putin sebagai presiden Republik Otonom bagian dari Federasi Rusia. Sebuah wilayah yang terletak di Kaukasus Utara, dengan penduduk sekitar 1.268.989 (sensus resmi tahun 2010). Mayoritas penduduk negeri itu adalah Muslim Sunni dan sebagian Nasrani Orthodoks.

Keberpihakan Kadyrov, baik ayah maupun anak (Akhmad dan Ramzan) kepada Putin, tak lepas dari preferensi keagamaan keduanya. Mereka bermazhab Ahlussunnah wal Jama’ah, penganut tasawwuf dan pengikut thareqat yang sangat cinta pada para Habaib (Habib: orang-orang yang memiliki garis keturunan Rasulullah).

Ramzan diketahui publik selalu memilih sholat di shaf ketiga pada ibadah sholat Jumat. Ia tidak mau maju ke depan karena hormat kepada para Habaib dan Ulama yang mengisi shaf pertama dan kedua.

Sebagai presiden sebuah negara, saat mendapat kehormatan untuk memasuki Ka’bah, ia menanggalkan segala atribut kebesaran kepala negara dan memakai pakaian yang paling sederhana sambil memegang sapu. (Nas/Dari berbagai sumber)

 

Comments

comments

November 10, 2019   PROFIL - 1492 Views

SEBAGAI PEMIMPIN MUSLIM DI CHECHNYA, KADYROV TAK HENTI DIKECAM MEDIA BARAT

Editor: Nasmay L. Anas
SEBAGAI PEMIMPIN MUSLIM DI CHECHNYA, KADYROV TAK HENTI DIKECAM MEDIA BARAT

BANDUNG, PRESTASIINDONESIA.CO.- Presiden Chechnya Ramzan Kadyrov belakangan ini banyak diperbincangkan. Berbagai media asing bahkan gencar mengangkat sosok pemimpin muslim yang militan ini. Terutama sisi negatifnya. Seolah menggambarkan bahwa situasi perang dingin itu belum juga berakhir, meski Uni Sovyet sebagai pimpinan Blok Timur sudah lama tak ada.

Media-media Barat yang anti-Islam terutama begitu tampak ketidaksukaannya terhadap sosok yang satu ini. Alih-alih membahas sisi kemanusiaan, kepemimpinannya yang didukung penuh rakyat dan ketegasan sikapnya, media Barat lebih suka mengumbar sisi buruknya. Objektif atau tidak. Berdasarkan data yang akurat atau tidak. Bagi mereka, itu tak penting. Karena keberadaan pemimpin seperti Kadyrov merupakan ancaman bagi dominasi Barat di seantero jagad.

Para pengamat media menilai, tidak sedikit media Barat yang tampak sekali benci terhadap Kadyrov.  Di dalam negeri Chechnya dia sangat disukai rakyatnya. Tapi dalam pemberitaan media Barat dia lebih sering disebut sebagai seorang diktator. Bahkan kadang disebut sebagai pemimpin yang haus darah.

Apalagi ketika Kadyrov memerintahkan tindakan tegas terhadap para pelanggar hukum di negeri itu. Dan Kadyrov disebut-sebut memiliki ribuan pasukan paramiliter tangguh. Mereka dikenal dengan nama “Kadyrovtsky” atau “orang-orangnya Kadyrov”.

Menariknya, April tahun lalu, Kadyrov membuat kebijakan kontroversial. Yakni memperbolehkan polisinya untuk menembak tentara dari kawasan Rusia manapun yang memasuki wilayah Chechnya tanpa ijin. Kebijakan tersebut ia keluarkan setelah seorang buronan Chechnya ditembak mati polisi di sebuah wilayah tetangga Chechnya, Stavropol.

Belakangan juga muncul tuduhan lain. Menurut media-media partisan Barat itu, presiden berusia 39 tahun ini gencar membekuk para pelaku Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT). Dan Kadyrov memang sangat serius membenahi penyakit masyarakat di Chechnya. Sebagai pemimpin muslim yang taat menjalankan ajaran agamanya, Kadyrov memang tidak mengizinkan eksistensi kelompok menyimpang seperti LGBT itu berkembang di Chechnya.

Karena itu, muncul berita-berita yang tidak henti mengekspos sisi-sisi negatif pemerintahan Kadyrov. Di antaranya disebutkan, banyak orang yang ditahan lewat tuduhan palsu. Diinterogasi dengan metode penyiksaan, sampai mengaku sebagai gay. Beberapa orang yang tak kuat disebut-sebut meninggal dunia. Karena itu, mereka ramai-ramai mencari suaka di negara yang lebih ramah LGBT.

“Tuduhan utama terhadap saya adalah adalah bahwa saya gay. Polisi akan berteriak bahwa saya gay, bahwa orang-orang seperti saya harus dibunuh,” kata Mazim Lapunov. Seperti diberitakan beberapa media Barat.

Lapunov disebut-sebut sebagai salah satu korban perburuan LGBT di Republik Chechnya, Rusia. Kejadiannya berlangsung Mei 2017. Ia mengungkapkan pengalaman sedihnya itu di Moskow, yang oleh SBS News dipublikasikan pada Oktober di tahun yang sama.

Tentara Darat Putin

Kadyrov sendiri, yang menyatakan diri sebagai “tentara darat Putin”, telah memerintah Chechnya sejak tahun 2007. Dan karena kedekatannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, dia pun harus berhadapan dengan musuh-musuh besar Putin di dunia Barat.

Beberapa pengamat menilai, meskipun perang dingin telah lama usai, namun perseteruan Barat terhadap Rusia di bawah Putin tampaknya tidak pernah kendor. Apalagi dengan tampilnya para pemimpin Islam yang bahu membahu dengan pemimpin Rusia itu.

Meski demikian, menurut mereka, kebencian dunia Barat terhadap Kadyrov bisa jadi bukan hanya karena kedekatan dan kepatuhannya kepada Putin. Tapi lebih tepatnya karena keteguhannya dalam menjalankan syari’at Islam dan ketegasannya dalam menerapkan hukum sesuai keyakinan agamanya itu.

Belakangan ini nama Kadyrov kembali santer jadi bahan pemberitaan media-media partisan Barat. Setelah ia dikabarkan meminta izin kepada Presiden Putin untuk mengirim ribuan infantri militer Chechnya ke Suriah. Untuk bergabung dengan Angkatan Bersenjata Rusia memerangi ISIS.

Memiliki nama lengkap Ramzan Akhmadovich Kadyrov, pemimpin muda Chechnya ini dilahirkan tanggal 5 Oktober 1976 (39 tahun). Dia ditunjuk Putin sebagai presiden Republik Otonom bagian dari Federasi Rusia. Sebuah wilayah yang terletak di Kaukasus Utara, dengan penduduk sekitar 1.268.989 (sensus resmi tahun 2010). Mayoritas penduduk negeri itu adalah Muslim Sunni dan sebagian Nasrani Orthodoks.

Keberpihakan Kadyrov, baik ayah maupun anak (Akhmad dan Ramzan) kepada Putin, tak lepas dari preferensi keagamaan keduanya. Mereka bermazhab Ahlussunnah wal Jama’ah, penganut tasawwuf dan pengikut thareqat yang sangat cinta pada para Habaib (Habib: orang-orang yang memiliki garis keturunan Rasulullah).

Ramzan diketahui publik selalu memilih sholat di shaf ketiga pada ibadah sholat Jumat. Ia tidak mau maju ke depan karena hormat kepada para Habaib dan Ulama yang mengisi shaf pertama dan kedua.

Sebagai presiden sebuah negara, saat mendapat kehormatan untuk memasuki Ka’bah, ia menanggalkan segala atribut kebesaran kepala negara dan memakai pakaian yang paling sederhana sambil memegang sapu. (Nas/Dari berbagai sumber)

 

Comments

comments

BANDUNG, PRESTASIINDONESIA.CO.- Presiden Chechnya Ramzan Kadyrov belakangan ini banyak diperbincangkan. Berbagai media asing bahkan gencar mengangkat sosok pemimpin muslim yang militan ini. Terutama sisi negatifnya. Seolah menggambarkan bahwa situasi perang dingin itu belum juga berakhir, meski Uni Sovyet sebagai pimpinan Blok Timur sudah lama tak ada.

Media-media Barat yang anti-Islam terutama begitu tampak ketidaksukaannya terhadap sosok yang satu ini. Alih-alih membahas sisi kemanusiaan, kepemimpinannya yang didukung penuh rakyat dan ketegasan sikapnya, media Barat lebih suka mengumbar sisi buruknya. Objektif atau tidak. Berdasarkan data yang akurat atau tidak. Bagi mereka, itu tak penting. Karena keberadaan pemimpin seperti Kadyrov merupakan ancaman bagi dominasi Barat di seantero jagad.

Para pengamat media menilai, tidak sedikit media Barat yang tampak sekali benci terhadap Kadyrov.  Di dalam negeri Chechnya dia sangat disukai rakyatnya. Tapi dalam pemberitaan media Barat dia lebih sering disebut sebagai seorang diktator. Bahkan kadang disebut sebagai pemimpin yang haus darah.

Apalagi ketika Kadyrov memerintahkan tindakan tegas terhadap para pelanggar hukum di negeri itu. Dan Kadyrov disebut-sebut memiliki ribuan pasukan paramiliter tangguh. Mereka dikenal dengan nama “Kadyrovtsky” atau “orang-orangnya Kadyrov”.

Menariknya, April tahun lalu, Kadyrov membuat kebijakan kontroversial. Yakni memperbolehkan polisinya untuk menembak tentara dari kawasan Rusia manapun yang memasuki wilayah Chechnya tanpa ijin. Kebijakan tersebut ia keluarkan setelah seorang buronan Chechnya ditembak mati polisi di sebuah wilayah tetangga Chechnya, Stavropol.

Belakangan juga muncul tuduhan lain. Menurut media-media partisan Barat itu, presiden berusia 39 tahun ini gencar membekuk para pelaku Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT). Dan Kadyrov memang sangat serius membenahi penyakit masyarakat di Chechnya. Sebagai pemimpin muslim yang taat menjalankan ajaran agamanya, Kadyrov memang tidak mengizinkan eksistensi kelompok menyimpang seperti LGBT itu berkembang di Chechnya.

Karena itu, muncul berita-berita yang tidak henti mengekspos sisi-sisi negatif pemerintahan Kadyrov. Di antaranya disebutkan, banyak orang yang ditahan lewat tuduhan palsu. Diinterogasi dengan metode penyiksaan, sampai mengaku sebagai gay. Beberapa orang yang tak kuat disebut-sebut meninggal dunia. Karena itu, mereka ramai-ramai mencari suaka di negara yang lebih ramah LGBT.

“Tuduhan utama terhadap saya adalah adalah bahwa saya gay. Polisi akan berteriak bahwa saya gay, bahwa orang-orang seperti saya harus dibunuh,” kata Mazim Lapunov. Seperti diberitakan beberapa media Barat.

Lapunov disebut-sebut sebagai salah satu korban perburuan LGBT di Republik Chechnya, Rusia. Kejadiannya berlangsung Mei 2017. Ia mengungkapkan pengalaman sedihnya itu di Moskow, yang oleh SBS News dipublikasikan pada Oktober di tahun yang sama.

Tentara Darat Putin

Kadyrov sendiri, yang menyatakan diri sebagai “tentara darat Putin”, telah memerintah Chechnya sejak tahun 2007. Dan karena kedekatannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, dia pun harus berhadapan dengan musuh-musuh besar Putin di dunia Barat.

Beberapa pengamat menilai, meskipun perang dingin telah lama usai, namun perseteruan Barat terhadap Rusia di bawah Putin tampaknya tidak pernah kendor. Apalagi dengan tampilnya para pemimpin Islam yang bahu membahu dengan pemimpin Rusia itu.

Meski demikian, menurut mereka, kebencian dunia Barat terhadap Kadyrov bisa jadi bukan hanya karena kedekatan dan kepatuhannya kepada Putin. Tapi lebih tepatnya karena keteguhannya dalam menjalankan syari’at Islam dan ketegasannya dalam menerapkan hukum sesuai keyakinan agamanya itu.

Belakangan ini nama Kadyrov kembali santer jadi bahan pemberitaan media-media partisan Barat. Setelah ia dikabarkan meminta izin kepada Presiden Putin untuk mengirim ribuan infantri militer Chechnya ke Suriah. Untuk bergabung dengan Angkatan Bersenjata Rusia memerangi ISIS.

Memiliki nama lengkap Ramzan Akhmadovich Kadyrov, pemimpin muda Chechnya ini dilahirkan tanggal 5 Oktober 1976 (39 tahun). Dia ditunjuk Putin sebagai presiden Republik Otonom bagian dari Federasi Rusia. Sebuah wilayah yang terletak di Kaukasus Utara, dengan penduduk sekitar 1.268.989 (sensus resmi tahun 2010). Mayoritas penduduk negeri itu adalah Muslim Sunni dan sebagian Nasrani Orthodoks.

Keberpihakan Kadyrov, baik ayah maupun anak (Akhmad dan Ramzan) kepada Putin, tak lepas dari preferensi keagamaan keduanya. Mereka bermazhab Ahlussunnah wal Jama’ah, penganut tasawwuf dan pengikut thareqat yang sangat cinta pada para Habaib (Habib: orang-orang yang memiliki garis keturunan Rasulullah).

Ramzan diketahui publik selalu memilih sholat di shaf ketiga pada ibadah sholat Jumat. Ia tidak mau maju ke depan karena hormat kepada para Habaib dan Ulama yang mengisi shaf pertama dan kedua.

Sebagai presiden sebuah negara, saat mendapat kehormatan untuk memasuki Ka’bah, ia menanggalkan segala atribut kebesaran kepala negara dan memakai pakaian yang paling sederhana sambil memegang sapu. (Nas/Dari berbagai sumber)

 

Comments

comments