August 12, 2019   BERITA - 8444 Views

Universitas Surya Tunggak Gaji, Prof Yohanes Surya Digugat di Pengadilan

Editor: Nasmay L. Anas
Universitas Surya Tunggak Gaji, Prof Yohanes Surya Digugat di Pengadilan

JAKARTA, PRESTASIINDONESIA.CO.- Ahli fisika Prof. Yohanes Surya akan digugat oleh para dosen dan karyawan Surya University, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (13/8/2019).  Hal itu merupakan  akibat kelalaiannya memenuhi janjinya untuk melunasi tunggakan gaji para dosen dan karyawan yang sudah berlangsung lebih dari 5 tahun.

Menurut informasi yang sampai ke redaksi prestasiindonesia.co, Senin (12/08), total tunggakan gaji para dosen dan karyawan yang sampai hari ini belum dibayar mencapai lebih dari Rp3 miliar. Meski demikian, belum ada tanda-tanda bahwa pencetus Teori Mestakung itu akan memenuhi kewajibannya.

Surya University (Foto: Dok. Instagram @suryauniversity)

Yayasan Surya Institute sebagai induk dari perguruan tinggi berbasis riset itu sudah berulang kali membohongi karyawannya. Hal itu terbukti dari janji-janji pelunasan utang gaji yang tidak ditepati hingga masalah ini diperkarakan di Pengadilan Jakarta Pusat oleh gabungan para dosen dan karyawan.

Menurut keterangan tertulis dari para dosen dan karyawan yang menggugat Prof. Yohanes Surya, persidangan yang akan dilakukan di Pengadilan Niaga pada PN Jakarta Pusat itu terdaftar dengan nomor register 168/Pdt.Sus-PKPU/2019/PN Niaga Jkt.Pst.

“Yayasan Surya Institute dirundung masalah finansial yang pelik, sehingga tidak dapat memenuhi kewajiban kepada para kreditur secara umum dan khususnya kepada para akademisinya,”  demikian diungkapkan dalam keterangan tertulis itu.

Yayasan ini diketahui menaungi sejumlah lembaga pendidikan, di antaranya Universitas Surya yang berdiri sejak tanggal 10 Januari 2013. Universitas ini kabarnya berambisi menjadi universitas berbasis riset kelas dunia.

Untuk mendukung visi tersebut, Prof. Yohanes mengajak para diaspora Indonesia yang terdiri dari lulusan terbaik dari berbagai universitas luar negeri untuk menjadi ilmuwan di Surya University. Mereka ini bahkan merupakan para akademisi yang memiliki pengalaman bekerja di berbagai lembaga riset international.

Menurut sumber yang sama, hingga akhir tahun 2014, jumlah ilmuwan seperti ini sudah mencapai ratusan. Namun malangnya, para diaspora yang telah meninggalkan hidup mapan di luar negeri guna mengabdi di Indonesia itu malah mengalami kesulitan karena Yayasan Surya Institute yang didirikan oleh Yohanes Surya itu tidak mampu membayar gaji mereka. Bahkan gaji dari karyawan lain pun masih ditunggak selama lebih dari lima tahun belakangan ini.

Akibatnya, banyak akademisi di Yayasan Surya Institute mengalami kesulitan ekonomi hanya untuk sekedar bertahan hidup. Padahal mereka tadinya mendapat bayaran yang tinggi ketika masih bekerja di luar negeri.

Yang cukup menyedihkan adalah para akademisi yang telah meninggal dunia. Sebut saja salah satunya Dr. Doddy Kustaryono, S.Si., Apt., MS., DEA. Doktor lulusan universitas terkenal di Prancis ini kembali ke Indonesia pada tahun 2010 meninggalkan pekerjaannya sebagai peneliti di salah satu lembaga penelitian ternama di Prancis.

Ia kembali ke Indonesia karena percaya pada janji manis dari Prof. Yohanes Surya. Iming-iming gaji tinggi dan fasilitas riset kelas dunia ditambah idealisme untuk mengabdi pada Ibu Pertiwi mendoriong dia untuk pulang. Namun semua janji manis itu tinggal janji sampai ajal menjemput pada 2018. Dr. Doddy meninggalkan seorang istri dan seorang putri yang masih di SMP.

Prof. Dr. Yohanes Surya adalah pakar matematika dan fisika yang terkenal dengan konsep Matematika Gasing. Dia dikenal sebagai pencetus teori Mestakung, yang merupakan singkatan dari seMESTA menduKUNG. Yakni teori yang menyebutkan, adalah hukum alam dimana ketika seseorang atau kelompok berada pada kondisi kritis maka semesta (termasuk sel-sel tubuh, lingkungan alam dan segala sesuatu di sekitar orang tersebut) akan mendukung dirinya untuk keluar dari kondisi kritis yang dialaminya itu.

Menurut informasi dari para dosen dan karyawan yang menuntutnya, teori ini ternyata tidak terbukti. Ketika dirinya sendiri sebagai pencetus teori itu berada dalam kesulitan, ternyata alam tidak mendukung. (Ist)

Comments

comments

JAKARTA, PRESTASIINDONESIA.CO.- Ahli fisika Prof. Yohanes Surya akan digugat oleh para dosen dan karyawan Surya University, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (13/8/2019).  Hal itu merupakan  akibat kelalaiannya memenuhi janjinya untuk melunasi tunggakan gaji para dosen dan karyawan yang sudah berlangsung lebih dari 5 tahun.

Menurut informasi yang sampai ke redaksi prestasiindonesia.co, Senin (12/08), total tunggakan gaji para dosen dan karyawan yang sampai hari ini belum dibayar mencapai lebih dari Rp3 miliar. Meski demikian, belum ada tanda-tanda bahwa pencetus Teori Mestakung itu akan memenuhi kewajibannya.

Surya University (Foto: Dok. Instagram @suryauniversity)

Yayasan Surya Institute sebagai induk dari perguruan tinggi berbasis riset itu sudah berulang kali membohongi karyawannya. Hal itu terbukti dari janji-janji pelunasan utang gaji yang tidak ditepati hingga masalah ini diperkarakan di Pengadilan Jakarta Pusat oleh gabungan para dosen dan karyawan.

Menurut keterangan tertulis dari para dosen dan karyawan yang menggugat Prof. Yohanes Surya, persidangan yang akan dilakukan di Pengadilan Niaga pada PN Jakarta Pusat itu terdaftar dengan nomor register 168/Pdt.Sus-PKPU/2019/PN Niaga Jkt.Pst.

“Yayasan Surya Institute dirundung masalah finansial yang pelik, sehingga tidak dapat memenuhi kewajiban kepada para kreditur secara umum dan khususnya kepada para akademisinya,”  demikian diungkapkan dalam keterangan tertulis itu.

Yayasan ini diketahui menaungi sejumlah lembaga pendidikan, di antaranya Universitas Surya yang berdiri sejak tanggal 10 Januari 2013. Universitas ini kabarnya berambisi menjadi universitas berbasis riset kelas dunia.

Untuk mendukung visi tersebut, Prof. Yohanes mengajak para diaspora Indonesia yang terdiri dari lulusan terbaik dari berbagai universitas luar negeri untuk menjadi ilmuwan di Surya University. Mereka ini bahkan merupakan para akademisi yang memiliki pengalaman bekerja di berbagai lembaga riset international.

Menurut sumber yang sama, hingga akhir tahun 2014, jumlah ilmuwan seperti ini sudah mencapai ratusan. Namun malangnya, para diaspora yang telah meninggalkan hidup mapan di luar negeri guna mengabdi di Indonesia itu malah mengalami kesulitan karena Yayasan Surya Institute yang didirikan oleh Yohanes Surya itu tidak mampu membayar gaji mereka. Bahkan gaji dari karyawan lain pun masih ditunggak selama lebih dari lima tahun belakangan ini.

Akibatnya, banyak akademisi di Yayasan Surya Institute mengalami kesulitan ekonomi hanya untuk sekedar bertahan hidup. Padahal mereka tadinya mendapat bayaran yang tinggi ketika masih bekerja di luar negeri.

Yang cukup menyedihkan adalah para akademisi yang telah meninggal dunia. Sebut saja salah satunya Dr. Doddy Kustaryono, S.Si., Apt., MS., DEA. Doktor lulusan universitas terkenal di Prancis ini kembali ke Indonesia pada tahun 2010 meninggalkan pekerjaannya sebagai peneliti di salah satu lembaga penelitian ternama di Prancis.

Ia kembali ke Indonesia karena percaya pada janji manis dari Prof. Yohanes Surya. Iming-iming gaji tinggi dan fasilitas riset kelas dunia ditambah idealisme untuk mengabdi pada Ibu Pertiwi mendoriong dia untuk pulang. Namun semua janji manis itu tinggal janji sampai ajal menjemput pada 2018. Dr. Doddy meninggalkan seorang istri dan seorang putri yang masih di SMP.

Prof. Dr. Yohanes Surya adalah pakar matematika dan fisika yang terkenal dengan konsep Matematika Gasing. Dia dikenal sebagai pencetus teori Mestakung, yang merupakan singkatan dari seMESTA menduKUNG. Yakni teori yang menyebutkan, adalah hukum alam dimana ketika seseorang atau kelompok berada pada kondisi kritis maka semesta (termasuk sel-sel tubuh, lingkungan alam dan segala sesuatu di sekitar orang tersebut) akan mendukung dirinya untuk keluar dari kondisi kritis yang dialaminya itu.

Menurut informasi dari para dosen dan karyawan yang menuntutnya, teori ini ternyata tidak terbukti. Ketika dirinya sendiri sebagai pencetus teori itu berada dalam kesulitan, ternyata alam tidak mendukung. (Ist)

Comments

comments

August 12, 2019   BERITA - 8445 Views

Universitas Surya Tunggak Gaji, Prof Yohanes Surya Digugat di Pengadilan

Editor: Nasmay L. Anas
Universitas Surya Tunggak Gaji, Prof Yohanes Surya Digugat di Pengadilan

JAKARTA, PRESTASIINDONESIA.CO.- Ahli fisika Prof. Yohanes Surya akan digugat oleh para dosen dan karyawan Surya University, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (13/8/2019).  Hal itu merupakan  akibat kelalaiannya memenuhi janjinya untuk melunasi tunggakan gaji para dosen dan karyawan yang sudah berlangsung lebih dari 5 tahun.

Menurut informasi yang sampai ke redaksi prestasiindonesia.co, Senin (12/08), total tunggakan gaji para dosen dan karyawan yang sampai hari ini belum dibayar mencapai lebih dari Rp3 miliar. Meski demikian, belum ada tanda-tanda bahwa pencetus Teori Mestakung itu akan memenuhi kewajibannya.

Surya University (Foto: Dok. Instagram @suryauniversity)

Yayasan Surya Institute sebagai induk dari perguruan tinggi berbasis riset itu sudah berulang kali membohongi karyawannya. Hal itu terbukti dari janji-janji pelunasan utang gaji yang tidak ditepati hingga masalah ini diperkarakan di Pengadilan Jakarta Pusat oleh gabungan para dosen dan karyawan.

Menurut keterangan tertulis dari para dosen dan karyawan yang menggugat Prof. Yohanes Surya, persidangan yang akan dilakukan di Pengadilan Niaga pada PN Jakarta Pusat itu terdaftar dengan nomor register 168/Pdt.Sus-PKPU/2019/PN Niaga Jkt.Pst.

“Yayasan Surya Institute dirundung masalah finansial yang pelik, sehingga tidak dapat memenuhi kewajiban kepada para kreditur secara umum dan khususnya kepada para akademisinya,”  demikian diungkapkan dalam keterangan tertulis itu.

Yayasan ini diketahui menaungi sejumlah lembaga pendidikan, di antaranya Universitas Surya yang berdiri sejak tanggal 10 Januari 2013. Universitas ini kabarnya berambisi menjadi universitas berbasis riset kelas dunia.

Untuk mendukung visi tersebut, Prof. Yohanes mengajak para diaspora Indonesia yang terdiri dari lulusan terbaik dari berbagai universitas luar negeri untuk menjadi ilmuwan di Surya University. Mereka ini bahkan merupakan para akademisi yang memiliki pengalaman bekerja di berbagai lembaga riset international.

Menurut sumber yang sama, hingga akhir tahun 2014, jumlah ilmuwan seperti ini sudah mencapai ratusan. Namun malangnya, para diaspora yang telah meninggalkan hidup mapan di luar negeri guna mengabdi di Indonesia itu malah mengalami kesulitan karena Yayasan Surya Institute yang didirikan oleh Yohanes Surya itu tidak mampu membayar gaji mereka. Bahkan gaji dari karyawan lain pun masih ditunggak selama lebih dari lima tahun belakangan ini.

Akibatnya, banyak akademisi di Yayasan Surya Institute mengalami kesulitan ekonomi hanya untuk sekedar bertahan hidup. Padahal mereka tadinya mendapat bayaran yang tinggi ketika masih bekerja di luar negeri.

Yang cukup menyedihkan adalah para akademisi yang telah meninggal dunia. Sebut saja salah satunya Dr. Doddy Kustaryono, S.Si., Apt., MS., DEA. Doktor lulusan universitas terkenal di Prancis ini kembali ke Indonesia pada tahun 2010 meninggalkan pekerjaannya sebagai peneliti di salah satu lembaga penelitian ternama di Prancis.

Ia kembali ke Indonesia karena percaya pada janji manis dari Prof. Yohanes Surya. Iming-iming gaji tinggi dan fasilitas riset kelas dunia ditambah idealisme untuk mengabdi pada Ibu Pertiwi mendoriong dia untuk pulang. Namun semua janji manis itu tinggal janji sampai ajal menjemput pada 2018. Dr. Doddy meninggalkan seorang istri dan seorang putri yang masih di SMP.

Prof. Dr. Yohanes Surya adalah pakar matematika dan fisika yang terkenal dengan konsep Matematika Gasing. Dia dikenal sebagai pencetus teori Mestakung, yang merupakan singkatan dari seMESTA menduKUNG. Yakni teori yang menyebutkan, adalah hukum alam dimana ketika seseorang atau kelompok berada pada kondisi kritis maka semesta (termasuk sel-sel tubuh, lingkungan alam dan segala sesuatu di sekitar orang tersebut) akan mendukung dirinya untuk keluar dari kondisi kritis yang dialaminya itu.

Menurut informasi dari para dosen dan karyawan yang menuntutnya, teori ini ternyata tidak terbukti. Ketika dirinya sendiri sebagai pencetus teori itu berada dalam kesulitan, ternyata alam tidak mendukung. (Ist)

Comments

comments

JAKARTA, PRESTASIINDONESIA.CO.- Ahli fisika Prof. Yohanes Surya akan digugat oleh para dosen dan karyawan Surya University, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (13/8/2019).  Hal itu merupakan  akibat kelalaiannya memenuhi janjinya untuk melunasi tunggakan gaji para dosen dan karyawan yang sudah berlangsung lebih dari 5 tahun.

Menurut informasi yang sampai ke redaksi prestasiindonesia.co, Senin (12/08), total tunggakan gaji para dosen dan karyawan yang sampai hari ini belum dibayar mencapai lebih dari Rp3 miliar. Meski demikian, belum ada tanda-tanda bahwa pencetus Teori Mestakung itu akan memenuhi kewajibannya.

Surya University (Foto: Dok. Instagram @suryauniversity)

Yayasan Surya Institute sebagai induk dari perguruan tinggi berbasis riset itu sudah berulang kali membohongi karyawannya. Hal itu terbukti dari janji-janji pelunasan utang gaji yang tidak ditepati hingga masalah ini diperkarakan di Pengadilan Jakarta Pusat oleh gabungan para dosen dan karyawan.

Menurut keterangan tertulis dari para dosen dan karyawan yang menggugat Prof. Yohanes Surya, persidangan yang akan dilakukan di Pengadilan Niaga pada PN Jakarta Pusat itu terdaftar dengan nomor register 168/Pdt.Sus-PKPU/2019/PN Niaga Jkt.Pst.

“Yayasan Surya Institute dirundung masalah finansial yang pelik, sehingga tidak dapat memenuhi kewajiban kepada para kreditur secara umum dan khususnya kepada para akademisinya,”  demikian diungkapkan dalam keterangan tertulis itu.

Yayasan ini diketahui menaungi sejumlah lembaga pendidikan, di antaranya Universitas Surya yang berdiri sejak tanggal 10 Januari 2013. Universitas ini kabarnya berambisi menjadi universitas berbasis riset kelas dunia.

Untuk mendukung visi tersebut, Prof. Yohanes mengajak para diaspora Indonesia yang terdiri dari lulusan terbaik dari berbagai universitas luar negeri untuk menjadi ilmuwan di Surya University. Mereka ini bahkan merupakan para akademisi yang memiliki pengalaman bekerja di berbagai lembaga riset international.

Menurut sumber yang sama, hingga akhir tahun 2014, jumlah ilmuwan seperti ini sudah mencapai ratusan. Namun malangnya, para diaspora yang telah meninggalkan hidup mapan di luar negeri guna mengabdi di Indonesia itu malah mengalami kesulitan karena Yayasan Surya Institute yang didirikan oleh Yohanes Surya itu tidak mampu membayar gaji mereka. Bahkan gaji dari karyawan lain pun masih ditunggak selama lebih dari lima tahun belakangan ini.

Akibatnya, banyak akademisi di Yayasan Surya Institute mengalami kesulitan ekonomi hanya untuk sekedar bertahan hidup. Padahal mereka tadinya mendapat bayaran yang tinggi ketika masih bekerja di luar negeri.

Yang cukup menyedihkan adalah para akademisi yang telah meninggal dunia. Sebut saja salah satunya Dr. Doddy Kustaryono, S.Si., Apt., MS., DEA. Doktor lulusan universitas terkenal di Prancis ini kembali ke Indonesia pada tahun 2010 meninggalkan pekerjaannya sebagai peneliti di salah satu lembaga penelitian ternama di Prancis.

Ia kembali ke Indonesia karena percaya pada janji manis dari Prof. Yohanes Surya. Iming-iming gaji tinggi dan fasilitas riset kelas dunia ditambah idealisme untuk mengabdi pada Ibu Pertiwi mendoriong dia untuk pulang. Namun semua janji manis itu tinggal janji sampai ajal menjemput pada 2018. Dr. Doddy meninggalkan seorang istri dan seorang putri yang masih di SMP.

Prof. Dr. Yohanes Surya adalah pakar matematika dan fisika yang terkenal dengan konsep Matematika Gasing. Dia dikenal sebagai pencetus teori Mestakung, yang merupakan singkatan dari seMESTA menduKUNG. Yakni teori yang menyebutkan, adalah hukum alam dimana ketika seseorang atau kelompok berada pada kondisi kritis maka semesta (termasuk sel-sel tubuh, lingkungan alam dan segala sesuatu di sekitar orang tersebut) akan mendukung dirinya untuk keluar dari kondisi kritis yang dialaminya itu.

Menurut informasi dari para dosen dan karyawan yang menuntutnya, teori ini ternyata tidak terbukti. Ketika dirinya sendiri sebagai pencetus teori itu berada dalam kesulitan, ternyata alam tidak mendukung. (Ist)

Comments

comments